Explore the blog

Mengenal UPS System Beserta Fungsinya



Geoman Electrical DNY provides products such as UPS Systems (uninterruptible power supply) in Singapore, with pre-sales communication with on-time delivery and prompt after-sales support

Kamis, 18 Maret 2021

Review Eat Pray Love Movie

Apa yang kamu lakukan saat mengalami kekacauan dalam hidup? Hadapi atau lari? Bagaimana dengan jalan-jalan keliling dunia?

Hello! Akhirnya saya kembali untuk membuat ulasan. Jika biasanya saya memilih drama atau film Asia, maka kali ini saya pilih film Hollywood berjudul Eat Pray Love yang rilis pada tahun 2010. Kemarin saya sempat sedikit menyinggung film ini saat membuat postingan tentang Sunset Road Bali. Langsung saja ya!

eat pray love

Elizabeth Gilbert 'Liz' adalah seorang Penulis artikel majalah. Suatu ketika, dia merasa bukan menjadi dirinya sendiri hingga memutuskan untuk bercerai dengan suaminya Steven. Ketika proses perceraian, Liz bertemu dengan David, seorang aktor dan mereka menjalin hubungan. Sayangnya, hal itu juga gagal dan menambah frustasi Liz.

Di tengah rasa bingung dan kehampaan dalam hidup, Liz memutuskan untuk bepergian selama satu tahun. Negara-negara yang dituju adalah Italia, India dan Indonesia. Lalu, apa yang sebenarnya Liz cari? Akankah dia menemukannya?


Judul: Eat Pray Love
Sutradara: Ryan Murphy
Produser: Brad Pitt
Dede Gardner
Jeremy Kleiner
Julia Roberts
Stan Wlodkowski
Tabrez Noorani
Penulis: Elizabeth Gilbert (novel)
Ryan Murphy
Jennifer Salt
Musik: Dario Marianelli
Sinematografi: Robert Richardson
Penyunting: Bradley Buecker
Perusahaan produksi: Columbia Pictures
Plan B Entertainment
Red Om Films
Distributor: Columbia Pictures
Tanggal rilis: 13 Agustus 2010
Negara: Amerika Serikat
Bahasa: Inggris
Durasi: 2 Jam 20 Menit
Pemain:
Julia Roberts sebagai Elizabeth Gilbert
Javier Bardem sebagai Felipe
Billy Crudup sebagai Steven
Richard Jenkins sebagai Richard
Viola Davis sebagai Delia
James Franco sebagai David
Sophie Thompson sebagai Corella
Christine Hakim sebagai Wayan
Tuva Novotny sebagai Sofi
Luca Argentero sebagai Giovanni
Giuseppe Gandini sebagai Luca Spaghetti
Rushita Singh sebagai Tulsi
Arlene Tur sebagai Armenia

 

Review Film Eat Pray Love


eat pray love movie

Sebenarnya saya lupa bagaimana tepatnya tahu film Eat Pray Love ini. Secara saya lebih suka hal yang berbau Asia. Mungkin karena ada setting Bali makanya saya memutuskan untuk nonton meski ini film lama. Sebelumnya saya sudah mengulas film tahun 2010 juga berjudul Life as We Know ItThe Back-up Plan, dan Valentine's Day.

Ternyata, Eat Pray Love Movie merupakan Film biografi yang diadaptasi dari buku karya Elizabeth Gilbert. Katanya sih buku ini laris manis pada tahun 2006. Sampai sekarang saya belum baca. Jadi tidak bisa membuat perbandingan seperti apa. Lagian waktu itu saya masih baru di dunia internet. Enggak paham bagaimana kehebohannya. Saya juga jarang nonton film biopic. Mungkin yang lumayan suka itu kisah Habibie & Ainun.

Ini sangat melemahkan saat orang lain melihatmu lebih jelas daripada dirimu sendiri

 


Diceritakan, awalnya Liz ini berkunjung ke Indonesia, Bali tepatnya. Nah di sana dia diramal oleh Ketut Liyer bahwa dia Petualang yang akan menghadapi perceraian. Nah setelah beberapa bulan kembali ke New York, Liz tidak merasa bahagia dengan suaminya Steven.

Pertama, Liz tidak melihat Steven menyukai anak-anak sementara Liz ingin punya anak. Lalu saat Liz bercerita tentang apa yang nanti akan dilakukan di Aruba (Sebuah pulau Antillen Kecil di Laut Karibia sebelah selatan), berbeda dengan Steven yang ingin melanjutkan pendidikannya. Karena alasan ketidakcocokan, Liz memutuskan untuk bercerai yang sebenarnya tidak mudah untuk keduanya.

Di masa perceraian, Liz tanpa sengaja bertemu dengan David, seorang aktor teater. Awalnya hubungan mereka indah sampai pada kenyataan ternyata banyak perbedaan di antara mereka. Misalnya saja David yang suka berantakan dan Liz yang suka kerapian.


Setelah curhat dengan sahabatnya Delia, akhirnya Liz memutuskan untuk traveling keliling dunia selama setahun. Dia ingin mengembalikan selera makannya dengan makan di Italia. Lalu melakukan perjalanan spiritual di India. Dan terakhir menemukan keseimbangan keduanya dengan datang ke Indonesia. Penasaran bagaimana keseruan perjalanan Liz ini?

Jangan melihat dunia ini dengan kepalamu. Lihat dengan hatimu. Dengan begitu, kamu akan tahu Tuhan

 

Eat Pray Love, Perjalanan Mencari Keseimbangan Hidup


eat pray love

Seperti yang saya bilang dia atas, Liz melakukan perjalanan ke 3 negara dengan tujuan yang berbeda. Saya akan mengulasnya sendiri-sendiri ya.

Italia


Saat di Italia, Liz bertemu dengan Sofi yang berasal dari Swedia. Dari Sofi, Liz berkenalan dengan tutor bernama Giovanni. Mereka akrab dan berteman baik. Setelahnya, mereka bertemu banyak orang termasuk Luca Spaghetti.

Dari Italia ini, saya jadi kenal istilah "Dolce far Niente” yang artinya manisnya untuk tidak melakukan apa pun. Jangan salah, maksudnya itu bukan berarti kita kerja penuh selama 5 hari lalu santai di akhir pekan, tapi betulan santai sejenak dalam keseharian seperti nongkrong atau ngobrol. Semacam jeda dari kesibukan. Kalau sekarang mungkin dengan main sosial media buat buang waktu. Saya percaya, Indonesia jauh lebih paham soal Dolce far Niente ini.

Kau tidak bisa mempelajari Italia seperti ini. Kau tidak berbicara bahasa hanya dengan mulutmu, tapi ungkapan dengan tanganmu

Ada cerita saat Liz sudah beberapa waktu di Italia dan dia masih enggak paham bahasanya. Akhirnya dikasih tahu kalau belajar di Italia jangan hanya pakai ucapan, tapi ekspresikan dengan tangan. Kalau diingat, memang benar juga. Kaya waktu nyebut kematangan pasta, Al dente!


Karena Liz di Italia memang mau mengembalikan selera makan, dia pernah ngajak Sofi buat makan Pizza di Napoli tapi Sofi-nya takut gemuk. Sebenarnya ini normal banget buat sebagian perempuan. Namun kadang saya juga jadi Liz dengan mengatakan, persetan dengan kegemukan! Lelah banget buat menghitung apa yang kita makan. Saya tidak ingin merasa bersalah dan membenci diri sendiri setelah makan.

Untuk makanan yang saya jumpai di Eat Pray Love Movie saat berkunjung di Italia, ada:
  • Prosciutto
  • Spaghetti alla carbonara
  • Pappardelle (Pasta besar, lebar)
  • Linguine (Pasta kecil). Ini malah mengingatkan saya sama Alfredo Linguini dalam film Ratatouille
  • Saltimbocca alla Romana, dan lainnya

Adegan mereka hanya makan sih. Jadi saya belum tahu bagaimana resep juga rasa masakannya. Kelihatannya sih enak dengan mencicipi berbagai macam jenis pasta. Jadi ingat Chef Kang Oh My Ghost yang jualan pasta.

Puing adalah jalan menuju transformasi

 


Selain ke Roma dan Napoli, Liz juga diajak jalan-jalan ke bangunan bernama Augusteum. Tempat ini merupakan kuil yang didedikasikan buat Kaisar Romawi pertama Oktavianus Augustus. Pada masanya, tempat ini dibuat untuk pemujaan pada kaisar, kemegahan teater, dan pameran kekayaan dan penghargaan besar yang dirancang oleh para pendeta.

Berjalannya waktu, rumah peristirahatan Augusteum ini ditinggalkan ketika Bangsa Barbar datang. Lalu pada Abad ke-12, tempat itu jadi benteng, lalu jadi tempat adu banteng, tempat penyimpanan kembang api dan terbengkalai sampai ditempati tuna wisma. Kalau dipikir, Romawi yang megah itu kenapa sampai jadi reruntuhan?

Liz akhirnya sadar dengan hubungannya. Tadinya dia bertahan dengan hancur bersama untuk jadi bahagia karena takut perubahan. Namun dia sadar bahwa kita harus selalu siap untuk gelombang perubahan. Tak masalah jika ada kekacauan. Mereka bisa bertahan, menyesuaikan diri hingga menemukan cara untuk bangkit kembali seperti Kota Roma.

Kau harus belajar untuk memilih pikiranmu seperti kau memilih pakaianmu setiap hari

India


Saat di India, Liz tinggal di Hari Mandir Ashram, Pataudi. Kalau di Islam, bisa dibilang Pondok Pesantren gitu. Di Ashram ini ada kuil, sekolah, asrama untuk pria dan wanita, rumah jompo, juga klinik. Di India, Liz bertemu dengan Richard dari Texas dan Tulsi seorang gadis India. Liz belajar memuja dari Guru Gita yang dikenal dari David.

Kau datang ingin mengendalikan hidup, maka asah pikiranmu. Itu satu-satunya hal yang bisa kau kontrol. Jika tidak menguasai pikiranmu, selamanya kau dalam kesulitan

Saat di Ashram, sebenarnya tidak mudah bagi Liz. Dia diajarkan untuk bermeditasi, pemujaan, baca kitab, tapi akhirnya lelah sendiri karena tak bisa berkonsentrasi. Pikirannya tidak fokus dan karena hal itu, Liz sering bertengkar dengan Richard.

Ada istilah Seva yang saya temui di film Eat Pray Love. Ini merupakan kata Hindu untuk kerja bakti tanpa pamrih dan dilakukan untuk semua orang yang tinggal di Ashram. Jenis Seva itu semacam mengepel dan beres-beres.

Aturan pertama di India. Jangan pernah menyentuh apa pun kecuali dirimu

Jika di Italia memperlihatkan reruntuhan dan gaya santai, maka saat pertama kali di India, Liz dihadapkan pada kenyataan bahwa negara ini padat. Lalu lintas juga tak beraturan, banyak pengemis, dan tempatnya banyak yang tidak bersih. Sebenarnya saya sering membaca bahwa India memang tidak seindah dalam bayangan drama atau film. Melihat sampah dan hewan ternak di jalan, itu hal biasa.

Saat di India, tidak banyak wilayah yang dijelajahi karena tujuan Liz ke sana memang untuk wisata spiritual. Liz belajar mengendalikan pikirannya dengan meditasi. Tak lupa yang pertama harus dilakukan adalah memaafkan diri sendiri.

Orang di Bali mengerti. Untuk terus bahagia, harus selalu tahu di mana kau berada setiap saat. Keseimbangan, tak terlalu banyak Tuhan, tak terlalu banyak nafsu egois. Jika tidak, hidup terlalu gila. Kehilangan keseimbangan, kehilangan kekuatan

Indonesia


Sebagai penutup perjalanan, Liz ke Bali untuk bertemu kembali dengan Ketut Liyer. Mereka saling mengingat sampai Ketut menasihati Liz untuk:
  • Pagi hari dengan melakukan meditasi dari India dengan serius
  • Siang hari menikmati Bali
  • Sore hari menemui Ketut. Liz diminta untuk menyalin tulisan
  • Di penghujung hari, Liz melakukan meditasi baru dengan duduk dalam ketenangan dan tersenyum. Senyum bukan hanya dengan wajah, tapi dengan hati dan dari hati

Di Bali selain bertemu dengan Ketut Liyer, Liz juga bertemu dengan Wayan, Wanita yang ahli dalam pengobatan tradisional. Tak lupa, Liz juga akhirnya bertemu dengan Felipe, pria yang berasal dari Brazil dan tinggal di Bali.

Saat di Bali, ada beberapa tempat yang dijelajahi seperti:
  • Rumah Ketut Liyer berada di Jalan Raya Pengosekan, Ubud. Ketut dikenal sebagai guru spiritual yang akan menilik wajah orang yang sedang diramal dan maparkan pribadimu. Beliau juga melihat garis telapak tangan
  • Monkey Forest di sekitar Ubud. FYI, monyet merupakan binatang yang dihormati oleh masyarakat Hindu. Di Monkey Forest juga terdapat Pura Dalem Agung Padangtegal dan pura lainnya untuk tempat kremasi. Enggak jarang umat Hindu Bali melakukan upacara keagamaan di sana. Oh iya, monyetnya juga nakal. Jadi lebih baik tidak memakai sesuatu yang bisa menarik perhatian si Onyet
  • Teras Sawah Tegalalang di Ubud. Sejak zaman sekolah, saya tahu bahwa sawah di sini terlihat unik karena menggunakan sistem terasering. Sawah ini jadi objek wisata Ubud paling populer di kalangan turis internasional. Btw, waktu saya ke Bali juga sempat berkunjung ke sini. Jadi tahu bagaimana keindahannya


  • Ubud Art Market di pusat Ubud. Di pasar ini menawarkan banyak barang, seperti topeng kayu, patung-patung, pernak-pernik, juga pakaian yang semuanya khas Bali. Waktu di Ubud Art Market, Felipe memberi tahu Liz untuk mencoba makan Rambutan dan melarang makan Durian. Iya, itu buah bau dan saya kurang suka, hahaha
  • Pantai Padang-padang yang terletaknya di Pecatu, Kabupaten Badung. Pantai ini agak tersembunyi karena berada di balik tebing. Airnya jernih dan pasirnya putih. Asyik buat bersantai bisa dengan berjemur atau surfing

Tak apa-apa untuk patah hati. Berarti kamu pernah mencoba sesuatu

Daripada berbicara soal cinta, dalam Eat Pray Love Movie ini saya lebih suka bicara perjalanan Liz bertemu banyak orang. Dia bukan yang lari dari masalah, tapi menemukan cara untuk mengembalikan dirinya. Selama 2,5 jam saya jadi ikut berpetualang ke beberapa negara.


Meski kisah cinta Liz bukan fokus utama saya dalam menonton, tapi ada bagian-bagian yang saya suka. Misalnya ketika David tersenyum dari panggung saat melihat Liz, saya juga ikut tersenyum. Ternyata James Franco ganteng juga, hahaha.

Kadang kehilangan keseimbangan untuk cinta adalah bagian dari menjalani kehidupan yang seimbang

 


Lalu saat Liz bersama Felipe dan pria itu berpamitan pada anak laki-lakinya, saya mengerti kenapa Liz jatuh hati. Felipe dan Liz sama-sama mengalami perceraian dan mereka takut untuk membuka hati. Pada kehidupan nyatanya mereka menikah meski kini akhirnya berpisah. Hidup orang, siapa yang tahu.

Saat kau keluar mengelilingi dunia untuk menolong dirimu sendiri, kadang kau berakhir dengan menolong 'Tutti' semua orang

Keluar dari rumah dan mulai perjalanan kadang bukan hal mudah, meninggalkan segala kenyamanan. Kaya saya contohnya yang seorang gadis desa, benar-benar tidak ada pengalaman. Namun saya percaya, ada banyak orang baik di luar sana. Intinya sih, setiap apa yang kamu temui dalam perjalanan jadikanlah sebuah guru. Tidak pernah ada yang sia-sia dari perjalanan. Jangan lupa untuk memilih tempat yang tepat untuk menemukan apa yang kamu cari.

Sebenarnya saya juga ingin jalan-jalan keliling dunia kaya Liz. Namun terkendala biaya dan juga keadaan sebagai perempuan Jawa yang keluarganya masih belum memberikan banyak kelonggaran. Mungkin nunggu punya pasangan dulu baru bisa terlaksana. Semoga saja.

Untuk akting, saya tidak akan berkomentar karena memang belum terlalu banyak nonton film Barat. Kalian pasti tahu bagaimana kualitas Julia Roberts. Karena berlokasi di Bali, tentu ada aktris Indonesia yang ikut main salah satunya Christine Hakim. Mungkin yang agak gemasin itu Ibu-ibu yang di rumah Ketut. Sengak tapi lucu.

Sebenarnya Eat Pray Love Movie ini bukan hanya bercerita tentang perjalanan, tapi juga persahabatan. Orang-orang yang Liz temui menjadi Teman bahkan berbagi kabar dan saling membantu saat membutuhkan. Senangnya saat punya persahabatan seperti ini.

eat pray love

Wah ternyata Review Eat Pray Love Movie yang saya tulis sudah panjang sekali. Jika kamu suka film dengan cerita perjalanan, boleh banget nonton film ini. Lumayan lah kata saya. Sama seperti judulnya, kita akan bicara makanan, spiritual dan cinta. Film ini juga agak berbau feminisme. Jadi mungkin kalian akan menemukan hal-hal yang kurang sepaham karena berbeda pandangan. Tak masalah, kita bebas untuk berpendapat. Dan terakhir, saya suka sekali tempat tinggal Liz saat di Bali yang dekat dengan sawah. Jadi ingin ke sana!

Sekian dulu ulasan film dari saya. Jadi ada yang sudah nonton Eat Pray Love Movie? Jika iya, share pendapat kalian! Sampai jumpa. Happy blogging!

Sumber informasi dan gambar:
Wikipedia
filmaffinity.com
www.romeanditaly.com

Whould you like to comment?

  1. waw Brad Pitt memang dabest :D

    BalasHapus
  2. Seluruh pemain di pilem ini aktor-aktris A-list y mbaa
    keren khanmaen
    pada masanya, pilem ini kayak jadi 'ambassador'-nya Bali :D

    BalasHapus
  3. Nah tu Keren,
    Kalau Patah Hati Jalan-Jalan Ajaa Keliling Dunia,
    Kalau Terus-Terusan sedih da Nangis dikamar juga gak bagus hehhee semangat 🥳

    BalasHapus
  4. Idolaku nih, Julia Roberts, hampir semua film nya saya tonton
    Cari ah, pingin nonton juga

    BalasHapus
  5. yaampun pas banget saya lagi nyarii rekomendasi film dan ketemu artikel inii! otw nonton nih

    BalasHapus
  6. Jarang ada yg bahas film barat, kebanyakan bahas ttg drakor termasuk saya, dan kebanyakan lebih suka film barat bergenre action.. ternyata menarik juga ya film yah berkisah perjalanan hidup seperti ini

    BalasHapus
  7. Film lama yang emang terasa long last banget menurut aku. Banyak hal yang bisa diambil sebagai pelajaran ya.

    BalasHapus
  8. aku belum pernah nonton film ini sih. tapi dulu pas film ini mau tayang sempat heboh gitu soalnya kan syutingnya di Bali dan ada tante Christine hakim juga main di situ

    BalasHapus
  9. Aku salfok sama fontnya. Lucu banget. Eh maapp mba hihii.
    Filmnya temponya lumayan yaaa, penasaran nih akuu😂😂
    Otw ahhh mau nontonin juga

    BalasHapus
  10. aku punya bukunya ini mbak, sepertinya perlu baca bukunya sampai kelar baru deh nonton filmnya supaya bisa membandingkan alur ceritanya ada yg di skip atau gak ya, kebanyakan film adaptasi dr novel ceritanya agak beda

    BalasHapus

Tinggalkan jejakmu di sini, Teman