Rabu, 03 April 2019

# Jogja # Traveling

Gelandang Semalam di Jogja

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Pernah jadi Gelandang? Atau malah Gelandangan? Apa yang kalian pikirkan tentang kata ini?

Menurut KBBI, Gelandang artinya berjalan ke sana sini tak tentu tujuannya. Bisa dibilang berkeliaran atau bertualangan. Ya saya dan 3 orang teman pernah lho gelandang semalam di Jogja. Gimana ceritanya coba?

Jadi sebenarnya ke Jogja ini kami cuma iseng. Hari Jumat sampai Sabtu siang kami ada acara kepariwisataan gitu di Magelang. Jumat malam harinya kita juga datang ke Borobudur Internasional Arts and Performance 2018 sambil lihat-lihat penampilan dari berbagai negara juga dari kota-kota di Indonesia.


Sabtu siang ketika acara selesai, kami memutuskan kembali ke Borobudur karena pada malam hari belum puas lihat candi Buddha yang pernah jadi Tujuh Keajaiban Dunia ini. Setelah dari sini rencananya kami akan pergi ke Jogja. Personilnya sendiri antara lain, saya, Mbak Susi, Winta dan Mang Ibnu.

Mbak Susi,Winta, saya dan Mbak Intan

Dan kami betulan keliling Borobudur sampai gempor ini kaki. Saat Magrib ketika kami berencana memesan mobil secara online, seorang teman Mbak bernama Mbak Intan yang berencana terbang ke Malaysia akan diantar temannya ke Bandar Udara Internasional Adisutjipto. Nah pas banget kan sama-sama tujuannya. Akhirnya kami nebeng untuk ke Jogja.

Mang Ibnu di Borobudur

Jalan ke Jogja waktu itu padat banget. Sepanjang jalan kami ngobrol, hahahihi dan melupakan kemacetan yang ada. Tujuan pertama kami yaitu pergi ke Mall Hartono demi mengantar Winta beli kaos. Setelah itu kami pergi ke Malioboro dan lagi-lagi kami mengandalkan transportasi online biar sekalian berempat gitu ya.

Saya kira kami bisa langsung cabut dari Mall karena dapat mobil dan supirnya bilang sudah di parkiran. Tapi ternyata lama banget! Kami sampai pindah dari depan Mall, lalu ke taman di dekatnya, sampai duduk di depan konter dan mirip betul sama gelandangan, hahaha. Mana pada bawa tas punggung gedhe-gedhe kan. Saking putus asa nunggunya, kami gantian buka aplikasi masing-masing buat pesan karena yang di awal sudah otomatis tercancel. Setelah satu jam lebih, ternyata supirnya berhasil keluar dan kita tetap bisa pakai mobil yang diorder pertama kali. Alhamdulillah!


Sebenarnya dramanya ini belum selesai, baru dimulai malahan. Pak Supir lewat jalan tikus gitu agar sampai di dekat Malioboro karena jalan memang macet parah. Ternyata ini gara-gara semua orang yang tumpah ruah di Jogja karena esok hari ada tes masuk perguruan tinggi. Kami masih mikir positif. Jika tidak bisa nemu penginapan secara online, mungkin kita bisa cari hotel murah secara offline.

Terus terang ketika sampai di suatu tempat, saya jarang paham arah. Kami berempat jalan terus ke jalanan Malioboro yang ramai banget. Kami memutuskan untuk duduk di salah satu lesehan dan mengisi perut yang mulai protes. Waktu menunjukkan pukul 11.30 pm. Ini sahur apa gimana ya? Makan larut banget, hahaha.

Nunggu pesanan

Setelah perut terisi dan tenaga sudah ada, kami memutuskan berjalan mencari penginapan untuk meluruskan punggung. Kami mencari rekomendasi hotel yang kira-kira oke. Tak masalah jika bukan hotel unik. Yang penting kita bisa istirahat dan tidur. Muter sampai lelah, ya keberuntungan tidak di pihak kami. Semua hotel penuh. Mungkin yang masih longgar itu hotel bintang 5. Tapi kan uang kami terbatas, hwa!

Daripada gelandang tidak jelas, Mang Ibnu mengajak kami untuk ke kafe. Kebetulan saat itu musim Piala Dunia dan sedang ada nobar. Pilihan kami ke Loko Kafe Jogja. Kami di sana dari pukul 1.30-04.00 pagi. Saya yang sudah lama enggak nonton bola pun akhirnya menikmati pertandingan antara Rusia dan Kroasia yang cukup seru. Akhirnya Kroasia menang setelah adu penalti.


Sibuk nobar

Jelang Subuh, kami keluar dari kafe dan menikmati jalanan Malioboro yang mulai sepi. Padahal di malam hari rame banget. Sunday morning di Jogja, tanpa tidur lebih dari 24 jam. Ini rekor banget buat saya! Adzan Subuh berkumandang, kami memutuskan untuk ke masjid.

Subuh, sepi

Kami masih gelandang di Jogja, belum dapat apa-apa dan sudah berpisah. Jam 05.00, Winta pamit ke stasiun kereta karena jadwal berangkatnya jam 06.00. Akhirnya kami bertiga duduk manis mengumpulkan energi. Ternyata kami tidak sendiri. Ada banyak orang bertas besar yang mungkin juga tidak dapat hotel untuk sekadar memejamkan mata.

Sebelum sarapan, kami baru tahu bahwa hari itu ada Fun Bike untuk Indonesia Jogja Ride 45KM. Peserta yang mau gowes lumayan banyak dari muda maupun tua, laki-laki perempuan semua ada. Kegiatan ini termasuk penyambutan Asian Games 2018.


Jogja pagi mulai ramai. Dari orang yang sekadar jalan-jalan, wisatawan, bahkan pedagang yang menawarkan dagangannya dan juga orang yang menawarkan jasa untuk jalan-jalan ke tempat wisata. Dan Mang Ibnu pun pamit melanjutkan perjalanannya ke Temanggung sebelum pulang ke Cirebon.

Dari Malioboro, sebenarnya ada beberapa tempat yang bisa kita kunjungi secara singkat, seperti:

  • Titik Nol Kilometer
Ngapain di sini? Kita bisa berburu kuliner ya. Ngisi perut dulu sebelum kembali jalan-jalan.

  • Keraton Yogyakarta
Kita bisa mulai dengan belajar sejarah dan melihat warisan budaya etnik Jawa.

  • Taman Pintar Jogja
Kalau sudah mengenang Jawa di masa lalu, kita bisa belajar sains di sini. Bisa bermain sekaligus belajar gitu deh.

Wikipedia

  • Museum Benteng Vredeburg
Di sini kita bisa mengenang zaman Pemerintah Belanda sebelum Indonesia merdeka. Benteng Vredeburg ini punya arti Benteng Perdamaian.

  • Pasar Beringharjo
Saatnya belanja! Kalau menurut saya, mau belanja dengan banyak pilihan itu enaknya di Beringharjo. Soalnya di jalanan Malioboro jualannya gitu-gitu aja. Berburu barang lama juga bisa banget!

Tapi sayangnya saat itu saya belum bisa ke tempat-tempat tersebut. Sebelum ke Magelang itu saya jatuh dari motor dan kaki saya lecet. Di Magelang main-main air. Karena cape banget, dan enggak tidur, luka di kaki enggak sempat kering dan bikin saya susah jalan. Next time harus banget bisa nikmati suasana Jogja dengan damai sentosa. Tapi saya sempat jajan oleh-oleh di Malioboronya.

Saya sadar nih namanya jalan-jalan enggak terencana ya kudu siapin hati. Kapok? Enggak, tapi memang minimal kita harus mempersiapkan tempat untuk istirahat. Hotel Kapsul, atau hotelbintang 3 juga boleh. Yang penting bisa ngelurusin punggung setelah perjalanan panjang. Selain itu, pengetahuan tentang transportasi yang tersedia dan jadwalnya kudu tahu juga. Jangan lupa bawa bekal traveling secukupnya.


Untuk penginapan, kita bisa cari lewat Pegipegi lho! Kenapa? Soalnya Pegipegi terhubung langsung ke lebih dari 7.000 hotel di Indonesia. Nyari hotel di Jogja? Hohoho, enggak perlu repot! Banyak pilihannya juga.

Kita bisa manfaatin Kupon Promonya. Install aplikasi, kita dapat info harga dan diskon menarik. Di Pegipegi kita juga bisa lihat rating dan baca ulasan untuk pilih hotel yang tepat sesuai budget dan kebutuhan kita. Jika butuh bantuan untuk booking hotel atau pertanyaan lainnya, tinggal hubungi Customer Service Pegipegi di nomor telepon 0804-1400-777. Pelayanannya profesional dan berpengalaman, siap bantu kita tiap hari selama 24 jam.


Karena hari mulai siang dan saya pamit dolannya sampai hari Minggu saja, setelah solat Dzuhur saya dan Mbak Susi naik Trans Jogja menuju Terminal Jombor. Busnya ramai banget dan enggak kebagian duduk, mana pindah sekali juga. Cape bok bawa tas punggung yang berat. Sekitar pukul 02.00 siang, kami sampai dan langsung nyari bus ke Semarang.

Selama perjalanan saya tidur kaya orang mati saking capenya, hahaha. Habis itu telepon sana sini nyari travel ke Jepara karena bus arah Jepara jelas sudah tidak ada. Cape ya, tapi kami senang karena banyak pengalaman termasuk soal gelandang semalam di Jogja.

Cari senderan nih!

Kalian sendiri punya pengalaman gelandang gara-gara perjalanan tak terencana? Bagaimana rasanya? Share pengalaman kalian juga ya!

Sampau jumpa. Happy blogging!

34 komentar:

  1. Untungnya saya belum pernah menggelandang begitu. Pasti nyari tempat menginap, sebuluk dan sejauh apapun tempatnya. Huehehe.... Tapi ceritanya seru, Mbak.

    BalasHapus
  2. Kalau saya dan suami jadi gelandangan waktu di Malaysia, tidur di terminal satu ke terminal lainnya.
    Waktu itu karena hemat uang sih, tapi seru kok, hehe :D

    BalasHapus
  3. Waduh baca ini aku jadi kange jogja apalagi sunmor, beuh ngangenin banget pengen kesana lagi

    BalasHapus
  4. Ini sama Mbak Susi Susindra? Seriusan ini semalam tidak tidur? Walah itu pas Mbak Susi udah hamil Gi atau belum?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Susindra. Hamil Gi 3 bulan kalau gak salah

      Hapus
  5. Saking ramainya Jogja pada saat itu sampai gak dapat tempat menginap, ya. Tapi, kalau saya kayaknya udah masuk angin hehehe

    BalasHapus
  6. Alhamdullillah,
    Pernah jadi gelandangan pas mau naik pesawat transit di Changi.
    Tidur di terminal Changi.
    Tapi karena sudah masuk ruang tunggu transit, tetap berasa aman dan nyaman.
    Karpetnya saja bisa dibuat tempat tidur, empuk dan tebal.
    Semua kebutuhan juga tersedia. Mau nonton, pijit, mandi dan lain-lain.
    Lengkap.

    Baidewei, aku tuh paling kalah kalau soal begadang.
    Bisa dipastikan langsung puyeng dan kunang-kunang.

    BalasHapus
  7. Serunya Mbaaak geolandang di Jogja, Jogya kan rame dan apapun ada jadi ndak bosen kan? Serunya memesan hote di Pegi pegi ya, banyak promonya ya, asyik kuinstall dech pegi pegi

    BalasHapus
  8. Aku sama suami kadang tidur di mobil pas mudik, karena biasanya berhenti di rest area pas saat tidur, hehe

    BalasHapus
  9. Jadi kangen jogjJ deh gara-gara baca tulisan kecenya mbk jiah apalagi mupeng sama borobBoro beda banget sama dulu sekarang kece banget

    BalasHapus
  10. Kalau jadi "gelandangan" semalaman di Jogja sepertinya saya juga mau deh. Asal nggak sendirian aja hihi. Pastinya jadi pengalaman yang berkesan banget ya mbak. Klu saya sendiri belum pernah ke Jogja sih jadi sementara ini masih mimpi aja semoga suatu hari bisa ke Malioboro juga, hehe

    BalasHapus
  11. Duh itu kopinya menggoda sekali hihi.. Jogya memang selalu bikin kangen yak.. suasanya.. kulinernya.. destinasi wisatanya dll.. duh jadi pengen ke Jogja lagi.. intip pegi pegi dulu ahhhh

    BalasHapus
  12. haha....seru banget tuh pengalamannya. kalau aku malah beda banget. waktu di makassar pesen hotel dua malam. tapi ga ditidurin malah milih ikut kumpul sama teman2 di pantai losari semalaman. aku ngerasa moment bersama teman lebih berharga...

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah tidak terjadi apa apa sama mba saat gelandang di Yogya.

    Persiapan perlu sebelum jalan jalan. Pegi pegi aja

    BalasHapus
  14. Baru tau kalo gelandang bisa diartikan sebagai bertualang, hehe. Kalo Jogya saya baru berkunjung ke Candi Prambanan dan apa itu keraton apa ya. Masih banyak nih yang mesti dieksplor :)

    BalasHapus
  15. Serunya baca ceritanya Mbak Jiah pas di Jogja. Jadi kangen pengen main ke Jogja. Kalau aku dan Pewe yang hobi touring naik motor jarak jauh, menggelandang mah udah cukup sering dilakukan. Biasanya sih buat seru-seruan dan menikmati perjalanan dengan cara yang beda. Ntar ikutan cara menggelendang Mbak Jiah ah kalau pas ke Jogja

    BalasHapus
  16. Huaaaa semalaman nggak tidur, Jiaaahhh? Untung kamu masih sendiri ya, masih bebaaass. Seru juga sih itu kelayapan semalaman hihihi. Btw temanmu yg dapet kereta jam 6 mesti enak, bisa tidur sepuasnya di kereta :D

    BalasHapus
  17. Ya ampuun sampai penuh banget dan ngga kebagian hoteeel ya mba judulnya! Untung rame-rame.. jadi enak hehe. Aku sekarang kalau begadangan udah keleyengan aja

    BalasHapus
  18. wah, susah juga ya cari hotel on the spot di Yogya padahal penginapan gitu kan buanyaaak. Eh kalau numpang tidur di masjid, gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukannya susah Mbak. Tapi saat itu semua penuh karena ada tes universitas

      Hapus
  19. Pengin ngakak nih baca cerita gelandangmu, Jiah. Aku dulu pernah kekgini bertiga. Rencana awal cuma jalan2 ke Jember, mampir di salah satu adek angkatan mapala. Eh lha koq terus kebablasen, ngapain ga sekalian lanjut Banyuwangi. Begitu sampe Banyuwangi trus tanya2an, ngapain udah sampai sini koq gak bablas ke Bali. Yawda langsung lanjut aja ke Bali naik bis BUML yg aduhaaaii panasnya :)) Sampai di Bali gelandangan aja di Kuta nyari hotel yang murmer. Jalaaannn mpe jauh, mpe frustrasi rasanya, baru deh nemu hotel yg harganya 60 ribuan, jaman semono tahun 2000an awal kayaknya :)) Prestasi gelandangan yg cukup membanggakan toh?

    BalasHapus
  20. Wakakak poto terakhir nggak nguatin. Nyari senderan, sudah saatnya nih kamu mbak haahha
    Jogja, kangen kapan ya ke Jogja lagi. Mumpung ada pocher menginap ke rich hotel

    BalasHapus
  21. Bhuaahhahha~
    Akutu jadi ingat novelnya Tere Liye yang "Daun Jatuh Tak Pernah Membenci Angin."
    Entah kenapa ceritamu mengingatkanku pada tokoh utama wanitanya, Jiaa...

    Lebih dramatis kalo kamu tambahin bumbu "cinta"
    Iiihii~

    BalasHapus
  22. Aku ga jadi ke Jogja jadinya karena acara nya di hold. Setiap baca postingan jogja aku jadi baper

    BalasHapus
  23. Sekali menuju ke Malioboro, akan banyak tempat hits terlampaui ya mba. Kalau kangen lagi ke Jogja, kabari ya.

    BalasHapus
  24. Nggelandang pun kalau aa temannya asyik juga yah..hehe.. Etapi klo balung tuo seperti aku ni kayaknya sdh gak cocok deh, harus ada tempat yg bisa utk ngeluk boyok dg nikmat..haha..

    BalasHapus
  25. Ah... tulisan ini mengingatkanku beberapa tahun lalu. Dimusim dingin yang menggigil saya harus duduk sendirian di taman hingga tengah malam. Terjebak kehidupan. *Eaaa...

    BalasHapus
  26. kalau aku sama teman temanku suka nya bilang gelandang elit. hahaha karena sering juga jadi gelandang tapi kerjaannya kulineran

    BalasHapus
  27. Mba Jiaahhh. . Jd kangen jogja nih aq. Dulu juga brasa penting bgt foto yg ada tulisannya malioboro itu, bangga aja gitu hihi

    BalasHapus
  28. Kangen Jogja😍😍 sekarang Jogja cantik banget nih aku suka apalagi Malioboro Vredeburg menarik wisatawan

    BalasHapus
  29. Ini mah gelandang elit, seru banget perjalanan di jogjanya, kebayang capeknya hampir 24 jam muterin jogja dan hangout di cafe, jadi pengen bertualang ke jogja kayak jiah

    BalasHapus
  30. Kalo keluyurannya bareng teman-teman sih santai Mbaak.. malah jadi pengalaman yang menyenangkan yaa hehe...

    BalasHapus
  31. Aku pernah gelandang di Makassar waktu masih kuliah S2.
    Suntuk ngerjain tesis jadi jam 12 malam belum sampai di rumah dan ga tentu mau kemana.

    Jogja mah selalu ada spot untuk sejenak bersandar...

    BalasHapus