6c2y5xLulMkOYYgEXrgPjC5Lx3Je6RzEo1m3mFkw

Wildfire di Indonesia dan Pengaruhnya Pada Isi Piring Kita

Siapa yang masih berpikir jika tidak makan nasi itu belum makan (Besar)? Sadar enggak kalau Wildfire di Indonesia itu sangat berpengaruh pada isi piring kita? Kok bisa?

    Halo, apa kabar? Semoga dalam keadaan baik dan sehat ya meskipun wildfire atau kebakaran hutan dan juga lahan masih terus terjadi di Indonesia. Sedih? Pastinya dong apalagi lihat berita di mana langit mereka menjadi merah, asap ke mana-mana bahkan sampai Malaysia, Singapura, dan lainnya. Kenapa sih kayanya sulit banget buat madamin api?

Wildfire di Indonesia dan Pengaruhnya Pada Isi Piring Kita

    Sebagai orang yang lahir dan selama ini tinggal di Jawa, tentu pertanyaan demi pertanyaan tentang Karhutla ini muncul. Kenapa sulit padam? Apa pengaruhnya untuk kita?

Wildfire di Indonesia: Dari Gambut Sampai Apa yang Masuk Ke Perut


Peatland Is Not Wasteland, lahan gambut bukanlah lahan yang tidak berguna

    Indonesia masih belum merdeka dari Karhutla, begitu kenyataannya. Bahkan rasanya setiap tahun makin parah. Elnino, kemarau panjang katanya jadi alasan. Padahal mah bukan. Dia hanya faktor pendukung di mana penyebab utama ya alih fungsi dari Lahan Gambut yang tidak terkendali.

Kebakaran Hutan dan Lahan

    Sebenarnya, Indonesia itu rumah bagi ekosistem gambut tropis terbesar dunia dengan 24,2 juta hektare yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Bagi yang belum tahu, Gambut merupakan ekosistem alami darat yang terbentuk dari timbunan materi organik seperti pohon, rumput, bahkan hewan yang membusuk dalam waktu 10-40 ribu tahun yang lalu. Gambut sejenis tanah basah yang miskin oksigen, tapi jadi tempat penyimpanan karbon alami terbesar di dunia. Dan Gambut ini juga mampu menyimpan air seperti spons. Dan karena hal itu, mungkin banyak yang mengira bahwa gambut itu lahan yang tak berguna. Padahal bukan. Gambut punya banyak fungsi, melindungi keanekaragaman hayati, menjaga perubahan iklim, bahkan bisa bantu jaga pangan kita.

    Seperti yang kami Eco Blogger Squad #ecobloggersquad pelajari beberapa waktu lalu dengan tema Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan bersama Yoga Aprilliano @pantaugambut dan Ahmad Arif @aik_arif. Penasaran tidak dengan pembahasannya?

Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan

    Saat ini, di beberapa daerah memang sudah memasuki musim penghujan, tapi itu tidak menghapus kenyataan bahwa telah terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan di mana-mana sampai beberapa bulan lamanya. Dan seperti di tahun-tahun sebelumnya, yang terbakar adalah lahan gambut. Mau dibilang karena kemarau, siapa juga yang percaya? Mau ditutupi, kenyataannya ada Sawit setelah Karhutla. Kan gila!

    Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab ini mengeringkan lahan gambut karena berpikir itu tanah yang tidak berguna. Kanalisasi untuk perkebunan dibuat sehingga lapisan mineral Pirit (FeS₂) bertemu Oksigen dan teroksidasi menghasilkan Asam Sulfat dan Asam Sulfida yang jika tersebar bisa membuat tanaman dan binatang keracunan.

Karhutla

    Saat kemarau panjang, Gambut akan mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena apinya ada di dalam tanah yang sudah dikeringkan. Akibatnya, asap ke mana-mana. Saat kering rawan api, ketika masuk musim hujan, bencana hidrometeorologi tidak dapat dihindari. Banjir karena Gambut yang harusnya menyerap air malah hilang.

    Saat kebakaran, masalah kesehatan, pernapasan, ISPA, infeksi mata, alergi, dan banyak lainnya muncul di mana-mana. Lebih jauh, Karhutla ini akan berpengaruh pada isi piring kita. Kok bisa?

Dari Gambut Sampai Ke Perut

Dari Gambut Sampai Ke Perut

    Saya masih ingat saat kecil, ada sebuah program di TV yang selalu saya tunggu-tunggu tiap hari Minggu. Saya lupa judulnya apa, tapi di sana bercerita tentang kehidupan orang-orang di luar pulau Jawa dengan segala adat isitiadatnya. Lewat itu, saya yang Jawa ini jadi sedikit tahu tentang Gambut dan juga Pengolahan Sagu, sumber karbohidrat utama mereka waktu itu.

    Waktu berlalu dan karena pengaruh lingkungan juga, saya jadi terbiasa apa-apa dengan nasi. Belum kenyang kalau tidak makan nasi. Padahal sumber karbohidrat di Indonesia itu banyak sekali. Hingga akhirnya jauh lebih dewasa, saya menyadari bahwa kita mungkin telah mengalami Penjajahan Perut atau Gastrokolonialisme.

Seragam adalah simbol ketertindasan - Squidward Tentacles

Keanekaragaman Hayati

    Dulu ketika Pemerintah menyeragamkan pangan di berbagai daerah, tujuannya agar mempermudah semua. Namun kenyataan setelah sekian lama, kita jadi ketergantungan terutama pada karbohidrat seperti beras dan gandum. Padahal, biodiversitas dan pangan lokal di Indonesia itu banyak sekali.

    Kondisi geologis Indonesia sangat berpengaruh, terletak di antaranya tiga lempeng dunia, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Samudra Pasifik, dan lempeng Indo-Australia. Banyak gunung, laut, berbagai pulau sehingga setiap daerah punya topografi yang berbeda. Misalnya saya orang Jepara dengan tanah yang lebih subur karena berada di kaki Gunung Muria. Lalu Demak, jenisnya tanah aluvial yang berasal dari endapan lumpur sungai dan material aluvium. Dan Pati perbatasan Rembang tanahnya mediteran yang mengandung kapur.

Keragaman Pangan

    Dari kondisi tersebut, kami punya tumbuhan yang berbeda, yang cocoknya tumbuh di daerah tertentu. Jadi harusnya di Indonesia, keanekaragaman hayati yang banyak ini wajib dilestarikan. Kita tidak harus menjadi sama karena justru keseragaman malah menimbulkan banyak masalah.

    Misalnya soal ketergantungan beras dan gandum sehingga ketika stok tidak ada, Pemerintah jadi impor ke mana-mana. Biaya jelas besar, harga makin naik. Yang lebih parah, stunting malah meningkat, penyakit muncul di mana-mana. Lalu apa solusinya?

Diversifikasi Pangan Kuat, Kita Selamat


Diversifikasi Pangan Kuat, Kita Selamat

    Diversifikasi Pangan atau penganekaragaman pangan pangan merupakan usaha mengajak Masyarakat untuk memberikan variasi terhadap makanan pokok, sehingga tidak tergantung pada satu komoditas. Sebelumnya saya kan bilang bahwa pangan lokal kita itu banyak sekali. Ada 77 jenis sumber karbohidrat, 389 jenis buah, 75 sumber protein, 228 jenis sayuran, 110 jenis bumbu dan rempah, serta banyak lainnya. Kalau dipikir-pikir, kita tidak akan kekurangan jika memperkuat pangan lokal ini. Indonesia harusnya bisa kenyang tidak hanya dengan beras dan terigu. Saya sendiri mengambil Singkong sebagai salah satu sumber karbohidrat pengganti nasi. Kenapa Singkong?

Singkong

    Singkong, Ketela Pohon, atau Ubi Kayu (Manihot esculenta) merupakan perdu berkayu dari keluarga Euphorbiaceae (suku getah-getahan) yang berasal dari Amerika Selatan dan sudah dibudidayakan secara luas di daerah tropis dan subtropis. Singkong tahan terhadap tanah kering, minim air dan bisa dimanfaatkan daun juga akar umbinya. Umumnya, olahan Singkong dalam bentuk rebus, tapi bisa juga dibuat tepung dan pati yang disebut Tapioka.

    Di rumah saya, Singkong seringnya dikonsumsi hanya dengan direbus. Kadang dibuat Gethuk, gorengan Klenyem, Lemet, Tape, Kripik, Manggleng dan baru-baru ini membuat Tiwul yang merupakan makanan khas Jawa yang terbuat dari Gaplek Singkong. Buat orang yang sukanya makan, tapi mageran kaya saya, membuat Tiwul ini cukup mudah, prosesnya tidak sepanjang seperti mengolah Gadung. Pun Anak-anak Gen Alpha, akan suka modifikasi makanan berbahan Ketela Pohon ini.

Cara Membuat Tiwul

Cara Membuat Tiwul
  • Ambil Singkong lalu kupas dan cuci bersih
  • Potong Singkong jadi beberapa bagian. Karena saya mengolah untuk konsumsi sendiri, saya memilih untuk parut gobet agar lebih cepat kering
  • Jemur singkong sampai kering
  • Singkong kering kemudian dihaluskan menjadi tepung. Nah tepung ini yang akan diolah jadi Tiwul
  • Untuk mengolah, Tepung dibasahi sedikit demi sedikit hingga jadi tekstur
  • Kukus tepung setengah basah
  • Setelah matang, bisa dikonsumsi sebagai pengganti nasi

Tepung Tiwul ini sama dengan Mocaf tidak ya?

Tiwul

    Meski sama-sama dari Singkong, Tiwul dan Mocaf ini sedikit berbeda. Gaplek bahan utama Tiwul hanya dikeringkan. Sementara Mocaf, ada proses fermentasi mickoorganisme, anggap saja modifikasi. Sementara Tapioka, ini dari saripati Singkong. Sudah paham kan? Singkong sangat amat bisa jadi pengganti Beras dan Terigu. Mana bebas gluten juga.

    Makanya, yuk sama-sama kita ikut andil dalam memperkuat diversifikasi pangan lokal. Melestarikan keberagaman pangan ini sebagai bentuk mitigasi dan adaptasi di tengah perubahan iklim. Tentu saja kita harus ingat bahwa #PeatlandIsNotWasteland, biarkan Gambut terjaga. Bersama, mari kita lawan Karhutla!

Ketela Pohon

    Kalian sendiri sudah mulai mengolah apa sebagai pengganti nasi? Coba share di kolom komentar ya!

    Sampai jumpa. Happy blogging!

Sumber informasi dan gambar:
https://id.wikipedia.org/wiki/Singkong
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c4gdxlxwr27o
https://www.eksotikkalimantan.com/2026/09/28/karhutla/
https://pantaugambut.id/kabar/3-jenis-kategori-lahan-gambut-yang-perlu-dihindari-untuk-program-food-estate

Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar