Apa yang kamu ketahui tentang mangrove? Cegah abrasi dan erosi? Apa jadinya jika tanaman ini ternyata bisa jadi bahan pangan juga? Lalu, adalah tumbuhan lain yang berfungsi ganda?
Halo, apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat dan baik ya! Bicara mangrove, tentu tidak asing dong apalagi buat kita yang tinggal di Indonesia, terdiri dari banyak kepulauan dan tentunya laut di mana-mana. Namun kalau boleh jujur, saya baru mengenal mangrove secara nyata itu di tahun 2016.
Sebenarnya dulu saat sekolah, isu pemanasan global, lingkungan, kadang memang dibahas, tapi ya sekadarnya saja. Waktu itu internet belum semasif seperti sekarang dan informasi yang saya dapat juga tidak banyak sumbernya karena keterbatasan tempat tinggal juga.
Jadi ketika di tahun 2016 saya diajak main ke Jembatan Merah Hutan Mangrove, Pantai Pantura Desa Pasarbanggi, Rembang, saya terpesona. Rasanya seperti masuk dimensi lain, hutan yang hijau dan sejuk. Lalu melihat ke bawah, banyak ikan-ikan di sana. Mangrove bukan hanya mencegah abrasi, tapi juga tempat tumbuh dan hidup biota.
Mangrove di Kampung Friwen, Sumber Kehidupan yang Harus Dijaga
Well, perjalanan pengetahuan tentang Mangrove kali ini datang dari Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Wah, jauh sekali ya!
Jadi, tanggal 27 September 2026 kemarin, kami #EcoBloggerSquad berkesempatan belajar dengan Wawiyai Steve dan Daniel Kbarek dari Raja Ampat tentang Mangrove yang ternyata jadi sumber kehidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen.
Seperti yang kita tahu, Mangrove itu tumbuhan perdu yang hidup di air asin, payau di pesisir laut. Akar tunjangnya kokoh, tahan di tanah berlumpur bahkan mampu menyaring kelebihan garam. Mangrove bukan hanya melindungi pesisir, tapi juga menyerap karbon lebih banyak dan menghasilkan oksigen lebih besar dari tanaman di darat. Penasaran bagaimana Masyarakat Kampung Friwen menjaganya?
Mangrove itu napas kehidupan Masyarakat Pesisir tak terkecuali Masyarakat Kampung Friwen. Raja Ampat terkenal dengan keindahan alamnya. Di manapun ada hal yang memikat, pasti ada saja hal kurang mengenakkan. Misalnya banyak pencurian kayu Mangrove untuk dijadikan penginapan tanpa menanamnya kembali. Padahal di sana banyak yang masuk kawasan konservasi, belum lagi soal perubahan iklim yang memengaruhi Hutan Mangrove. Kek mana mereka mau hidup kalau hutannya dibabat coba?
Mangrove dan Ketahanan Pangan Lokal
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, mangrove ini kan baik banget ya buat lingkungan. Kaya akan oksigen yang bikin bumi jadi lebih adem. Selain itu, mangrove jadi habitat biota laut. Jadi kalau Mangrove disebut tanaman untuk ketahan pangan, ya tentu saja benar!
Banyak biota laut di sana seperti ikan, kerang, udang, kepiting. Buat masyarakat Pesisir, ini bernilai ekonomi tinggi. Bisa diolah buat pribadi atau dijual. Hampir bisa dibilang, semua orang akan suka. Saya sendiri yang tinggal di pesisir, rasanya tidak bosan makan hasil laut. Apakah mangrove hanya menghasilkan itu saja?
Tentu tidak! Sebenarnya, buat mangrove juga bisa diolah.
FYI, mangrove itu banyak sekali jenisnya. Ada yang memang dimanfaatkan kayunya. Namun banyak juga yang menghasilkan buah dan bisa dikonsumsi, antara lain:
- Buah Pedada (Sonneratia alba)
- Buah Lindur (Bruguiera spp.)
- Buah Tanjang (Ceriops spp.)
- Buah Bakau (Rhizophora spp.)
Buah Mangrove ini bisa olah jadi tepung, kue, madu, sirup, selai, acar, macam-macam lah ya. Kalau di daerah saya, Pantai Utara, buah mangrove kebanyakan jadi makanan yang dinamakan Brayo. Sejenis makanan rebusan yang dikasih parutan kelapa. Kapan-kapan saya infokan deh. Yang dipakai untuk makanan ini adalah jenis Api-api (Avicennia).
Pemanfaatan mangrove di Raja Ampat ini apakah tiba-tiba atau bagaimana?
Awalnya memang karena ada masalah pencurian kayu dan dampak dari perubahan iklim. Melalui dukungan TAF #theasiafoundation bersama PKPRA, masyarakat di sana didorong buat ngembangin berbagai produk turunan mangrove dengan pendekatan yang berkelanjutan, berbasis pengetahuan lokal, serta memperhatikan keterlibatan perempuan dan anak muda. Pemanfaatan mangrove harus dilakukan dengan bijak karena bagaimanapun, mangrove merupakan bagian penting dari ruang hidup dan sumber penghidupan kita. Dengan apa?
- Pemetaan partisipatif
- Identifikasi jenis mangrove, rehabilitasi, dan penanaman kembali
- Pelatihan pengolahan produk
- Pengawasan Berbasis Masyarakat (Sasi)
Kurang lebih, itu yang dilakukan Masyarakat Kampung Friwen untuk menjaga hutan mangrove. Pengambilan buah hanya yang sudah jatuh. Dan hukuman adat ini penting juga biar pemulihan ekosistem tetap terjaga. Jadi kuncinya memang kerja sama berbagai pihak, ya masyarakatnya, pemerintah, bahkan lainnya juga harus ikut serta #JagaMangroveJagaRajaAmpat.
Gadung, Pestisida Nabati yang Bernutrisi
Bicara ketahanan pangan, sebenarnya kalau kita mengenal alam, memahaminya, sumber pangan itu banyak sekali. Salah satunya adalah Gadung. Siapa nih yang belum kenal dengan tanaman ini?
Gadung (Dioscorea hispida) merupakan sejenis umbi-umbian yang mudah ditemukan di halaman, kebun, hutan, dan tersebar di berbagai daerah, bukan hanya di Indonesia. Gadung tumbuhnya merambat, musim kemarau seperti sekarang pun tetap hidup.
Gadung dikenal sebagai umbi beracun karena mengandung sianida, dioscorin dan saponin. Ada yang menggunakannya sebagai racun ikan, tapi banyak juga yang memanfaatkannya sebagai pestisida nabati yang bikin serangga, wereng, tikus, lumpuh dan tidak nafsu makan. Jadi Petani tidak tergantung dengan bahan kimia karena Gadung lebih ramah lingkungan.
Sebentar! Gadung beracun, tapi kok bisa jadi sumber pangan lokal? Bagaimana ceritanya?
Memang Gadung ini beracun, tapi jika mengolahnya benar, tanaman ini sangat bernutrisi. Karbohidratnya tinggi, Serat, protein, mineral, vitamin, bahkan sumber antibakteri dan antioksidan. Jadi umbi ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Lalu bagaimana cara mengolahnya?
- Gadung ini tumbuh liar, bisa diambil dengan mudah. Kalau sudah ketemu tanamannya, gali saja tanahnya. Sering kelihatan, tidak terlalu dalam. Sebaiknya setelah diambil langsung diolah, jangan didiamkan lama
- Kupas dan potong atau iris tipis-tipis
- Proses pengeraman dengan abu atau garam. Jika menggunakan garam, larutkan di air dulu, kemudian rendam Gadung semalaman. Kalau Mbah saya, biasanya pakai abu. Setelah gadung diiris, balurkan di abu. Setelah itu keringkan
- Setelah pengeraman, cuci Gadung. Lebih baik di air mengalir. Cucinya harus berulang-ulang, minimal 3 hari
- Setelah dicuci, baru bisa digunakan. Jika dibuat tepung, gadung yang sudah cuci kemudian dibentuk sesuai selera, lalu keringkan. Jika mau dimakan langsung atau dibuat kerupuk, maka direbus dulu
Di daerah saya, Gadung seringnya diolah jadi kerupuk. Kadang ada beberapa yang dibuat makanan lain, baik asin atau manis. Gadung ini ada bau khasnya saat direbus. Kalau kalian kurang yakin mengolah sendiri, lebih baik beli jadi saja ya biar aman, hahaha.
Ada cerita lucu soal Gadung ini. Jadi waktu kecil, saya suka ke sungai entah untuk main atau mencuci baju. Di sana, sering ketemu karung yang direndam dan berbau. Usut punya usut, ternyata itu Gadung. Bagian pencuciannya memang lebih baik di sungai dan dibiarkan sampai beberapa hari. Baru kemudian dicuci sampai bersih, hilang abunya. Dan meskipun Gadung itu ditinggal, tidak ada yang iseng mencuri. Malas mungkin ya, atau malah takut keracunan juga, hahaha!
Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan
Dari Mangrove, dari Masyarakat Kampung Friwen, dari alam, saya percaya bahwa sebenarnya kita tidak akan kekurangan bahan pangan jika menjaga hutan, bumi. Kita bisa memanfaatkan apa pun untuk pangan dan bernilai ekonomi. Namun jangan lupa untuk bijak dalam pemanfaatannya. Butuh kerja sama dari berbagai pihak agar semua tetap terjaga.
Solusi menghadapi perubahan iklim dan solusi pangan lokal yang tidak hanya baik bagi lingkungan tapi bernilai ekonomi akan dibahas juga di Bangkok Climate Action Week tanggal 3-11 Oktober nanti. Diskusi seperti ini penting, aksi nyata juga dibutuhkan di sini. Jadi, hal baik, meski kecil, tapi jika dilakukan bersama, akan turut andil dalam menjaga bumi. Mari bersama #merawatmimpi #menumbuhkaninspirasi.
Di daerah kalian sendiri, tanaman apa nih yang punya fungsi ganda, untuk lingkungan dan bahan pangan juga? Coba share di kolom komentar ya!
Sampai jumpa. Happy bogging!
Sumber informasi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Gadung
https://www.halodoc.com/artikel/gadung-kenali-manfaat-kandungan-dan-cara-olahnya
Terbaru
Lebih lama













