Explore the blog
Kamis, 21 Oktober 2021

Code Red, Climate Change Is Not a Game

Ketika lampu merah muncul, pernah terpikir apa yang akan terjadi di hidup kita saat memutuskan untuk terus berjalan?

Halo, apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat dan baik ya meski sejujurnya, saya dan kamu, kita sedang merasakan kegelisahan tersendiri dengan masa depan. Saya tidak berbicara hal pribadi terkait pernikahan, tapi ini tentang krisis iklim yang kita alami.

red code climate change

Saat nonton Squid Game, saya ikut merasakan kegelisahan orang-orang miskin, tak punya uang dan hutang yang tak terbayar. Mereka akhirnya memilih untuk maju ke sebuah permainan yang mungkin akan mengubah nasib. Namun Perubahan Iklim bukan sebuah game. Apa yang terjadi sekarang akan menentukan masa depan kita harus hidup seperti apa.

Beberapa waktu kemarin #EcoBloggerSquad berjumpa kembali lewat zoom. Kali ini kami ngobrol soal Kode Merah bersama Yayasan Madani Berkelanjutan. Kode Merah apa? Harus terus berjalan atau berhenti dan melakukan perubahan?

Bumi Semakin Panas, Kode Merah Kemanusiaan. Apa yang Harus Kita Lakukan?


Beberapa waktu saat pandemi, di kota besar akhirnya bisa melihat langit biru bahkan sampai masuk trending topik. Jelas ini jadi kabar yang cukup membahagiakan. Bumi perlahan pulih. Itu yang ada di pikiran kita.

Namun akhir-akhir ini, cuaca terasa panas. Saya yang biasanya tidak memakai kipas angin, hampir setiap waktu baik malam maupun siang kini tak bisa lepas darinya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ternyata, ada laporan terbaru yang dirilis oleh Kelompok Kerja I Panel Antar-Pemerintah mengenai Perubahan Iklim atau The Intergovernmental Panel on Climate Change Working Group (IPCC) Sixth Assessment Report. Di sini menyatakan bahwa pada 2 dekade ke depan, diperkirakan Bumi akan mengalami kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat Celcius atau bahkan lebih. Semula target kenaikan diprediksi akan terjadi pada tahun 2100. Namun prediksi terbaru pada skenario emisi tertinggi, Bumi akan memanas sampai 5,7°C di tahun 2100.

Ji, bukannya Global Warming itu sudah terjadi lama?

Iya betul, Krisis Iklim sudah sejak zaman baheula. Namun sekarang ini bumi memanas lebih cepat, makin meluas, dan intensif bahkan belum pernah terjadi sebelumnya. Sadar atau tidak, ini semua akibat ulah tangan manusia. Sesuai Kode Merah dari IPCC, kita punya waktu 20 tahun lagi untuk mengatasi hal ini.

Dalam postingan sebelumnya di Earth Day, saya sudah bercerita apa saja yang menjadi penyebab pemanasan bumi. Yang paling banyak ya karena emisi gas rumah kaca akibat Karhutla, Rusaknya Gambut, penggunaan batu bara dan lain sebagainya.


Pemanasan global ini jelas membawa banyak dampak yang buruk. Mulai dari bumi yang memanas lebih cepat. Lalu konsentrasi Karbon dioksida di atmosfer meningkat di posisi tertinggi bahkan selama 2 juta tahun. Terjadi kenaikan permukaan air laut tertinggi selama 3000 tahun serta cadangan es di Kutub Utara dan Antartika terancam meleleh.

Kutub Utara ke Garis Katulistiwa, masih jauh Ji!

Kata siapa? Ini dekat lho, bahkan sudah mulai kita rasakan. Krisi Iklim ini sudah mulai menenggelamkan pulau-pulau kecil di Indonesia. Lihat deh di daratan dekat pantai yang akhirnya abrasi. Kekeringan panjang. Hujan sebentar lalu banjir di mana-mana. Cuaca yang tidak bisa diprediksi. Spesies Flora Fauna baik di darat dan laut yang mulai punah. Mau komentar apa lagi coba? Ya kenyataannya Bumi sedang tidak baik-baik saja.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi Kode Merah Panas Bumi ini?


Back to nature. Ini yang utama. Kita kepanasan, ya tanam pohon. Kebanjiran? Yuk taman pohon. Alam dan manusia memang kudu seimbang. Kita penghasil emisi terbesar dari Karhutla. Kita juga bisa jadi solusi untuk panas bumi. Caranya? Lindungi, restorasi dan rehabilitasi ekosistem alam mulai dari hutan, mangrove dan gambut.

Selama ini kita juga sering mengandalkan batu bara untuk pembangkit listrik, BBM dan lainnya. Ada baiknya kita beralih ke energi terbarukan seperti memanfaatkan energi air, angin bahkan tenaga surya. Naik transportasi umum juga bisa mengurangi emisi.

Mengurangi jejak karbon lewat makanan dan fesyen. Mungkin kita tidak sadar jika makanan seperti daging itu punya emisi cukup tinggi. Kita bisa mengganti protein ini dengan ikan, tahu, tempe atau telur. Lebih baik mengurangi, bukan yang tidak mengonsumsi daging sama sekali. Makan juga secukupnya, jangan dibuang-buang.

Dari segi fesyen, mungkin kita bisa belajar hidup minimalis, bukan yang beli pakaian ini itu, tapi tidak dipakai atau hanya sekali pakai. Ini berlaku juga untuk barang lainnya agar tidak menghasilkan banyak sampah. Belanja pun sebaiknya membawa kantong atau tempat sendiri supaya mengurangi plastik.

Selain memulai semuanya dari diri sendiri, kita juga bisa ikut kampanye lewat tulisan atau apa pun keahlian kita. Semua itu bisa bermanfaat untuk menyuarakan krisis iklim. Kita bisa saat melakukannya bersama-sama.


Pemanasan global bukan hanya masalah lingkungan, tapi itu akan memengaruhi tiap aspek kehidupan manusia. Code Red, Climate Change Is Not a Game. Dua puluh tahun itu waktu yang singkat untuk mengubah banyak hal. Masa depan ditentukan dari sekarang. Jadi mau seperti apa?

Sampai jumpa. Happy blogging!

Would you like to comment?

Anisa AE mengatakan...

Keadaan Bumi sekarang semakin parah bahkan panasnya sampai terasa, memang belakangan ini cuacanya panas banget. Oleh karena itu, kita harus segera mencegah pemanasan global.

Linasophy mengatakan...

Sedih rasanya ketika sadar bahwa krisis iklim yang terjadi semakin parah. Dan kita tahu penyebabnya adalah karena ulah manusia.

Firsty Ukhti Molyndi (Molzania) mengatakan...

mengkhawatirkan banget ya keadaan bumi zaman sekarang, jadi makin bikin resah iklimnya. huhuu.. semoga dengan adanya perubahan kecil, iklim kita jadi bisa membaik

Armita mengatakan...

Dulu waktu masih kecil inget banget suhu rumah tuh adem dingin. Sekarang panasnya bikin kegerahan kalau gak nyalain kipas angin/AC aduh puyeng kepanasan.

Suciati Cristina mengatakan...

Udah merasakan juga. Panas banget ya. Aku negri bayangin bisa lebih panas dari ini. 20 tahun lagi semoga bisa jadi lebih baik, ya Allah. Aku udah jarang beli pakaian semenjak menikah. Beralih ke menscup, bawa wadah klo belanja ikan atau ayam gitu. Nah konsisten ini lohh yg sulit 😅. Semoga aku bisa konsisten menjadi lebih baik 😁 amiin dan anak cucu bisa berdampingan dgn alam juga dengan baik

Okti Li mengatakan...

Kondisi bumi saat ini sudah mengkhawatirkan. Kita penghuninya apa gak resah?

Pilihan ada di tangan kita. Memperbaikinya atau bobrok bersamanya...

Okti Li mengatakan...

Bumi kita kondisinya sudah mulai rapuh. Manusia sebagai penghuninya sudah seharusnya memberikan perhatian lebih. Toh ujungnya untuk kenyamanan manusia itu sendiri ya

Nurul Fitri Fatkhani mengatakan...

Betul Mbak, pemanasan global bukan hanya masalah lingkungan, tapi itu akan memengaruhi tiap aspek kehidupan manusia. Jadi seharusnya manusia lebih memperhatikan kelestarian lingkungan

Mutia Erlisa Karamoy mengatakan...

Wah 20 tahun...entahlah apa dengan waktu yang sesingkat itu bisa memperbaiki kerusakaan yang terjadi, mudah-mudahan dengan digalakkannya Net-Zero Emissions akan semakin banyak solusi menurunkan emisi gas rumah kaca yang menjadi salah satu penyebab Global Warning. Kita harus menjadinya bumi lebih baik demi anak dan cucu kita kelas.

Nanik nara mengatakan...

Ada waktu 20 tahun untuk mengatasi red code climate ini, dengan peran serta semua lapisan masyarakat, insyaallah bisa ya mbak. Tentunya berbagai sosialisasi dan gerakan harus dilakukan dari atas ke bawah

Alfa Kurnia - pojokmungil.com mengatakan...

Mbak, emang terasa banget deh, 5 tahun terakhir ini suhu udara selalu meningkat tiap tahunnya. Dan tahun ini rasanya terpanas dari tahun-tahun sebelumnya. Jadi perubahan iklim itu beneran nyata, ya. Jadi kita harus mulai ambil bagian untuk mencegah pemanasan global, nih.

Sulis mengatakan...

Iya...bumi sedang tidak baik2 saja. Selalu saja terjadi cuaca ekstrem...klo nggak panas banget, hujan dengan intensitas sangat tinggi...trus banjir...

Akhirnya, mulai dari diri sendiri... Lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk bumi

Dee_Arif mengatakan...

iya mbak, asli makin hari bumi makin panas
duh apalagi aku yang tinggal di Surabaya, sumpah surabaya rasanya makin membara

Leyla Hana mengatakan...

Iya emang belakangan ini panas banget. Kalau keluar rumah ga pake baju panjang, pasti kulit jadi gosong. Tapi sekarang lagi musim hujan dan deras banget. Semoga baik-baik aja ya bumi kita. Jaga lingkungan bersama.

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Memang akhir-akhir ini panas banget kalo siang hari, ntar sore mendadak hujan deres.
Kalo ingin benerin bumi emang harus menanam pohon di hutan, baik mangrove maupun lahan gambut ya

Yurmawita mengatakan...

Kami merasakan betul efek pemanasan global ini, seperti intensitas banjir kian meningkat, jika dahulu banjir cuma tahunan ketika musim hujan namun sekarang banjir bisa 3 sampai 4 kali dalam 1 bulan

Lina W. Sasmita mengatakan...

Kenaikan suhu itu sudah beberapa tahun yang lalu saya rasakan saat pulang kampung. Biasanya menggigil kedinginan lah kok saat di kampung itu malah biasa aja. Suhu udara cenderung hangat. Efeknya memang global ya.

nchie hanie mengatakan...

Huhuuu, berasa banget JIaah..
Bandung puanase pwool, ini lagi bw juga geuraah, tapi di beberapa tempat yg banjir pohon tumbang, ga karuan banget iklimnya.
Semoga hal kecil dari kita bisa berkontribusi buat bumi kita ya, setuju banget kalo mulai dari baju yang ga hanya sekali pakai, bisa mix n match yg lama juga nih.

lendyagassi mengatakan...

Aku jadi ingat Ice Age yaa, Jiah.
Memangnya kita saat ini menentukan bumi masa depan. Mulai berbuat sedikit tapi konsisten agar menjadi contoh bagi anak muda-mudi Indonesia.

Nurul Dwi Larasati mengatakan...

Tanda-tana code red ini memang udah terasa banget ya. Musim atau cuaca juga udah mulai ga konsisten sama waktunya. Memang diri sendiri dulu nih harus dibenahi kelakuannya buat lindungi bumi.

Nia K. Haryanto mengatakan...

Huhu ngomongin climate change bikin sedih, apalagi saat lihat peta dunia yang semakin mengkhawatirkan zona hijaunya. Semoga dengan semakin banyaknya sosialisasi mengenai climate change, kita semua tersadarkan. Dan melalukan yang terbaik untuk bumi.

khairiah mengatakan...

bersama kita bisa membuat bumi menjadi lebih baik lagi, mulai saja dengan diri sendiri dan consisten melakukannya aku yakin kita bisa mengatasinya bersama

Keluarga Biru mengatakan...

Pemanasan global akan berdampak pada kehidupan anak cucu kita, itulah sebaiknya kita segera berbenah diri. Saya pun masih belum bisa konsisten, minimal menghemat penggunaan plastik.

Maria G Soemitro mengatakan...

bagus banget tulisannya

pemanasan global harus kita pahami sebagai keniscayaan

dan harus mulai bersikap, bertindak dan beradaptasi

Tukang Jalan Jajan mengatakan...

pemanasan global sudah bener benar nyata dan terjadi didepan mata. di kampungku banjirnya makin tinggi dan diluar dari kebiasaan. Ini jadi salah satu tragedi alam yang sangat susah ditanggulangi, kudu beneran jadi perhatian

khairiah mengatakan...

Dari dulu kalau masalah perubahan iklim ini selalu bikin resah sendiri, gimana yaa kita bisa mengurangi efeknya

khairiah mengatakan...

Dari dulu kalau masalah perubahan iklim ini selalu bikin resah sendiri, gimana yaa kita bisa mengurangi efeknya

April Hamsa | Parenting Blogger keluargahamsa.com mengatakan...

Baru kemarin dengar kabar ada dataran tinggi yang banjir aja rasanya gmn gtu, sereemm.
Emang yang namanya perubahan iklim ini gak bisa dibiarkan kudu benar2 dicegah dan diatasi.
Gak bisa ngandelin pemerintah doank, tp tiap individu mengubah lifestyle jg penting ya supaya bisa berkontribusi nyata buat bumi ini.

Erin Herlina mengatakan...

Isu pemanasan global emang gak ada habisnya ya, Mba. Tapi kita bisa menekan dengan mengubah gaya hidup. Dari tidak menggunakan kemasan plastik, bahkan sampai makanan yang kita konsumsi. Perubahan iklim saat ini kalau tidak diatasi segera akan membahayakan manusia itu sendiri.

Diah Kusumastuti mengatakan...

Iya, 20 tahun itu bisa cepet banget kalau kita gak melakukan apa-apa untuk memperbaiki bumi, ya. Aku dari lingkup terkecil yaitu keluarga juga berusaha melakukan hal-hal kecil untuk menjaga bumi. Misal masak secukupnya biar gak buang-buang, menejemen plastik, dll.
Makasih sharingnya, Jiah :)

Ruli retno mengatakan...

Masih ada waktu untuk kita mencoba ya, trs berupaya mengurangi perilaku konsumtif untuk mengurangi emisi

andhikamppp mengatakan...

Energi, transportasi, teknologi biasa aku denger sebagai salah satu penyumbang pemanasan global.

Tapi baru ngeh, makanan dan fashion juga bisa ngasih dampak secara tidak langsung ya.

Aku yang kerja di batubara kadang-kadang suka kesiksa batin kalau bahasan ini muncul. AKu digaji dari kemungkinan perusakan bumi.

Btw, Mbak. Ukuran-ukuran foto yang disematkan di tulisan mungkin bisa diperbesar ya untuk memudahkan yang membaca :-D

rhehanluvly mengatakan...

Postingan mbak Jiah mengingatkanku lagi untuk terus konsisten mengontrol diri dalam manajemen plastik dan tidak mudah membuang-buang makanan karena efeknya cukup besar bagi bumi yang kita tinggali

Rahmah 'Suka Nulis' Chemist mengatakan...

Saya enggak kebayang generasi kita akan menikmati bumi ini seperti apa
Malam saja gerahnya minta ampun
Apalagi kalau sudah selepas Shubuh

Rindang Yuliani mengatakan...

Aku menerapkan prinsip hidup minimalis, zero waste, dan eco life style. Semoga setiap gerak langkahku yang kecil ini dapat berarti bagi perubahan iklim bumi ke arah yang lebih baik.

Keluarga Biru mengatakan...

Pemanasan global memang sudah mengkhawatirkan, seperti bencana banjir yang melanda Batu dan Malang kemarin itu juga jadi pertanda yang harus kita perhatikan. Padahal hujannya hanya sebentar namun bisa menjadi banjir bandang yang menyebabkan kerugian nyawa, material.

Geg Erni Bigsoo mengatakan...

Dulu sewaktu di salah satu kota di Jateng.. masih bisa rasakan kabut di tengah kota. Dengan berjalan waktu kabut tidak pernah hadir. Iklim pun bertambah panas.

Antung apriana mengatakan...

iya nih, bulan oktober kemarin berasa banget panasnya sampai nggak betah banget di rumah. semoga saja semakin banyak yang peduli dengan kondisi bumi ini dan melakukan aksi sekecil mungkin yang bisa mereka lakukan ya

Okti Li mengatakan...

Itulah kenapa musim sekarang ini tidak bisa diprediksi lagi. Lagi panas terik, tiba tiba hujan turun. Di sebagian wilayah banjir di sebagian wilayah malah kekeringan. Menyedihkan ya

Dee_Arif mengatakan...

Ancaman perubahan iklim begitu nyata ya mbak
makanya harus perlu mengambil sikap
harus melakukan banyak perubahan gaya hidup untuk menjaga kelestarian lingkungan

Henny mengatakan...

Mau hidup yang berkelanjutan ya wajib sadar melestarikan bumi ini. Mulai dari aktivitas kecil yang memberikan dampak besar buat kebaikan bumi. Hal kecil jika dilakukan bersama-sama akan besar dampaknya

Nyi Penengah mengatakan...

Bener banget mba Ji. Musim jadi tak menentu. Kitalah yang harus menjaga lingkungan dan sadar dengan baik agar semua tertolong.

syarifani mama twins mengatakan...

Apalagi di Surabaya, beuhh panasnyaa nauudzubillah kaya neraka bocor kata orang-orang. :D
Diem di kamar sebentar ngga pakai kipas angit, keringet langsung banjir.
Kalau cara saya mulai dari membiasakan masak sendiri, bawa kantong belanjaan sendiri, meskipun waktu belanja sering dipaksa katanya biar isi tas ndak kotor. Hmm

Komentar saya moderasi. Tinggalkan jejakmu di sini, Teman!