Explore the blog
Kamis, 10 Juni 2021

Cegah Karhutla Cegah Pandemi, Are You Ready?

Menjadi terkenal kadang menyenangkan. Namun apa jadinya jika populer karena hal yang membawa dampak kurang baik? Oh no! Oh no! Oh no, no, no!

Halo, apa kabar? Semoga tetap dalam keadaan sehat dan baik ya. Ini lagi ngomongin kepopuleran siapa sih, Ji? Indonesia lah. Kan negara kita jadi sorotan dunia karena emisi gas rumah kaca yang bersumber dari kebakaran hutan. Makanya kita Cegah Karhutla Cegah Pandemi, Are You Ready?

Kok bisa kebakaran hutan dan lahan jadi pencegah pandemi?

 

cegah karhutla cegah pandemi

Untuk menjawab hal tersebut, saya mau cerita bahwa tanggal 4 Juni 2021, Eco Blogger Squad kembali berkumpul dalam Cegah Karhutla, Cegah Pandemi Online Gathering. Narasumber kemarin itu ada Dedy Sukmara, Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara dan Dokter Alvi Muldani, Direktur Klinik Alam Sehat Lestari (Yayasan ASRI). Temanya pas sama Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day yang diperingati setiap tanggal 5 Juni.

Pada pertemuan pertama Eco Blogger Squad, tema yang diangkat adalah Hari Bumi dan Krisis Iklim. Kali ini kita berbicara tentang Karhutla dan zoonotic disease atau wabah yang disebabkan oleh hewan. Kerusakan lingkungan bisa memunculkan pandemi itu benar adanya.

Mungkin seperti saya yang berada di Jawa tidak terlalu merasa dampak dari kebakaran hutan, tapi bukan berarti itu tidak ada. Dua tahun lalu tepatnya di tahun 2019, ada 1,6 juta hektare hutan dan lahan yang terbakar. Bukan hanya berdampak pada lingkungan sekitar, tapi Indonesia juga jadi sorotan dunia. Kenapa? Soalnya asap yang dihasilkan jadi penyumbang emisi gas karbon terbesar di dunia.

Penyebab Karhutla sebenarnya bisa dari faktor alami yaitu petir, aktivitas vulkanis, dan ground fire. Namun banyak juga karena faktor manusia, di antara: praktik pembukaan lahan dengan membakar, perburuan, penggembalaan, konflik lahan, aktivitas lain.

Dampak dari kebakaran hutan dan lahan ini banyak banget lho, di antaranya:
  • Hilangnya habitat dan penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar
  • Kesehatan, pendidikan, dan transportasi akan berdampak karena adanya asap
  • Pemasaran global dan perubahan iklim
  • Kerugian dari segi ekonomi untuk Indonesia yang mencapai Rp72,95 triliun sepanjang tahun 2019

Banyak yang bilang bahwa Elnino atau kemarau panjang menjadi pemicu terjadinya kebakaran hutan. Faktanya, tanpa kemarau pun hal ini terus terjadi bahkan sampai jadi bencana tahunan. Faktor utamanya ya manusia. Bisa karena lalai atau seringnya karena kesengajaan.

kebakaran hutan dan lahan

Ini bukan omong kosong ya. Ada datanya kok. Dapur asap dari tahun 2001-2019 menyebabkan bahwa sebagian besar titik panas sepanjang 20 tahun terakhir berada di lahan gambut terutama di Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Papua. Ini jadi sulit dipadamkan karena karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar. Api menjalar di perut gambut dan memicu bencana asap. Saat lahan gambut rusak, maka sulit pulih.

Selama ini, kebakaran hutan dan lahan berputar dari satu daerah ke daerah lain. Dalam 5 tahun terakhir malah terjadi di daerah baru. Yang lama belum tertangani, eh muncul api baru. Bahkan di beberapa kasus, ada faktor kesengajaan karena konflik lahan atau perburuan. Misalnya, lahan gambut dibakar agar tumbuh rumput. Rumput ini untuk pakan sehingga satwa berkumpul dan akhirnya bisa ditangkap.

Dari analisis juga, sudah ada lokasi, waktu kapan terbakar, dan pontensi kerusakan sudah jelas tercatat. Harusnya sih sudah bisa dilakukan mitigasi dan antisipasi agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan. Jika lingkungan aman, pandemi sesungguhnya bisa jauh dan bisa kita cegah.

Lalu, upaya apa sih yang bisa dilakukan untuk mencegah karhutla?

  1. Memperluas moratorium hutan dan gambut
  2. Meningkatkan penegakan hukum
  3. Restorasi hutan dan gambut terdegradasi
  4. Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan
  5. Membangun infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini
  6. Memberi insentif ekonomi bagi yang tidak membakar

Kelihatannya ribet ya dan mungkin kita merasa agak jauh jika harus mencegah karhutla. Kita bisa kok berkontribusi secara nyata dengan tidak membeli produk dari perusahaan yang memang kita tahu bahwa mereka ikut andil dalam merusak alam dan karhutla.

Munculnya Penyakit Zoonosis Karena Deforestasi


penyakit zoonosis karena deforestasi

Setelah kita ngomongin karhutla, salah satu dampak hal ini adalah hilangnya habitat satwa liar. Sadar atau tidak, makhluk hidup itu berhubungan erat dengan lingkungan. Saat lingkungannya rusak, maka itu juga berdampak pada manusia sehingga muncul wabah yang disebabkan oleh hewan.

Makhluk hidup, binatang harusnya hidup di alam liar. Ketika terjadi Deforestasi atau pengalihan hutan menjadi lahan, bahkan penggundulan hutan, maka habitat mereka terganggu. Mereka jadi kehilangan sumber makanan, tempat tinggal, iklim semakin panas, hewan pun berpindah ke lingkungan manusia dan terjadilah interaksi. Deforestasi memang membuat spesies menurun, tapi banyak juga yang mampu beradaptasi. Hal ini dapat jadi penyebab berpindah virus-virus hewan ke manusia. Kasusnya sama kaya pandemi Corona ini yang dipercaya dipicu oleh transmisi virus dari hewan kelelawar dan pangolin lalu ke manusia.

Lalu, apa saja Zoonosis ini dan bisakah kita melakukan pencegahan?

 

zoonotic disease

Sebenarnya ada lebih dari 200 penyakit zoonosis yang sebagian dari penyakit baru, sebagian lagi sudah ada. Zoonosis itu penyakit atau infeksi yang secara alami bisa ditransmisikan dari vertebrata ke manusia. Contoh Zoonosis sendiri ada HIV, Ebola, Measles (Campak), Smallpox (Cacar), TBC (Tuberculosis), Rabies, Covid-19, dan lainnya. Beberapa bisa dicegah dengan melakukan vaksinasi dan juga metode lainnya.

Pencegahan karhutla memang tidak bisa secara langsung mencegah penyakit zoonosis. Ada beberapa tahap yang harus kita lakukan. Pertama dengan pencegahan wabah agar tetap berada di alam liar, bersama hewan yang membawanya. Caranya? Tidak menggangu habit liar mereka. Jika pun memelihara hewan, maka lakukan perawatan dengan benar. Katakan tidak dengan perdagangan hewan liar karena justru saat mereka bertemu di pasar, itu malah jadi tempat bertukarnya virus.

Saat wabah sudah menular ke manusia, maka sebisa mungkin untuk mengurangi penyebarannya sehingga tidak terjadi pandemi. Misalnya tidak melakukan perjalanan atau berkumpul. Jangan lupa untuk rajin cuci tangan karena tangan adalah tempat berkumpulnya bakteri, virus dan lainnya.

Hutan memang jadi sumber pangan dan hidup manusia. Namun kita perlu menyeimbangkan produksi makanan, komoditi hutan, dan barang lainnya dengan tetap menjaga hutan dan lingkungan. Kita bisa mulai dari hal kecil misalnya memakai produk yang ramah lingkungan, adopsi bibit, menanam hutan kembali, apa pun itu. Karena dengan mencegah kebakaran hutan dan lahan, kita bisa turut andil mencegah pandemi. Jadi, sudah siapkah kamu untuk ikut pencegahan ini?

Meski sedih dengan cerita sebagian Teman-teman #EcoBloggerSquad yang merasakan dampak karhutla secara langsung, tapi saya percaya bahwa bersama kita bisa bantu mencegah hal ini. Mari kita jaga hutan, jaga lingkungan agar kehidupan lebih seimbang. Jadi kita bisa bantu mencegah pandemi.


Terima kasih untuk semua yang ada di Cegah Karhutla, Cegah Pandemi Online Gathering. Semoga kita bisa menyebarkan hal-hal baik agar orang lain turut menjaga hutan. Bagaimana dengan Kalian? Sudahkah menjaga lingkungan? Share ceritanya ya! Sampai jumpa. Happy Blogging!

Would you like to comment?

nurul rahma mengatakan...

Luar biasa kak artikelnya!
Sangat mencerahkan dan menggugah semangat utk makin melindungi hutan Indonesia
Keren buanget nih olaborasi antara AURIGA (Yayasan AURIGA Nusantara) dan Yayasan ASRI (Alam Sehat Lestari)m HIIP Indonesia dan BPN (Blogger Perempuan Network) bersama Eco Blogger Squad .

Rach Alida Bahaweres mengatakan...

Pencegahan karhutla selain tidak isa lakngsung dilakukan karena harus bertahap juga butuh keterlibatan banyak pihak ya mba. Terima kasih sudah berbagi mba :)

diane mengatakan...

Ternyata ada dampaknya juga ya karhutla ke pandemi baru.. Semoga karhutla tidak terjadi lagi deh di Indonesia.. dampak jangka pendek dan jangka panjangnya serem ..

Jiah Al Jafara mengatakan...

Iya, Mbak. Yuk sama-sama lindungi hutan

Jiah Al Jafara mengatakan...

Betul banget. Semua orang, semua pihak harus bekerja sama. Gak bisa sendirian

Jiah Al Jafara mengatakan...

Iya. Kalau berkepanjangan ini yang gawat banget

Era Wijaya Sapamama mengatakan...

Paling sedih kalau ada hutan yang terbakar dan kalau dilihat sekarang marak sekali deforestasi hutan. Miris mam. Akankah zamrud khatulistiwa itu hilang? Naudzubillah

Dzulkhulaifah mengatakan...

Ternyata selain asapnya yang mencemari lingkungan, Karhutla bisa berdampak juga pada kesehatan manusia akibat penyebaran virus, ya. Makanya kelestarian hutan perlu dijaga, jangan ada kegiatan yang berakibat kebakaran. Terima kasih infonya Mbak. Bermanfaat banget nih, saya akan ceritain juga ke anak saya.

Suciarti Wahyuningtyas (Chichie) mengatakan...

Menjaga hutan tetap lestari itu memang tugas kita, karena bagaimanapun karhutla ini sebenarnya menjadi PR juga untuk kita semua. Semoga apa yang dilakukan untuk pencegahan karhutla ini bisa membantu ya secara perlahan.

tantiamelia.com mengatakan...

Karena bapakku almarhum adalah ranger hutan,
aku tahu persis kendala yang beliau hadapi saat terjadi karhutla. Aku sendiri besar di Tarakan, dan rumahku di Peningki itu kebetulan dapat di sudut persis bersebelahan dengan hutan lindung mungil, untuk paru-paru lingkungan komplek. \

Ya ga bisa dibilang kecil juga ya karena untuk komplek orang-orang kehutanan hehehe, dan itu pernah siang-siang bolong kebakaran! Penyebabnya sederhana, ada pengunjung yang buang rokok di dekat ranting kering, aku masih trauma banget liat api membesar dan menjilat dinding luar ruang tamu!

Walau "kebakaran kecil" tapi padamnya api butuh waktu sekitar 5-6 harian! Ya karena suhu di dalam tanah masih panas dan banyak ranting kering yang harusnya sih jadi pupuk alami pohon ya!

Karhutla ini harus ditangani serius karena membutuhkan waktu lamaaaa untuk memadamkan api, dan asapnya sungguh menyesakkan :( SALUT BUAT KALIAN ECO BLOGGER, KEEP ON GOING GUYS!

Ruli retno mengatakan...

Kadang aku pikir ini hanya kisah, sampai akhirnya mengalami sendiri secara langsung ternyata kerusakan di muka bumi itu nyata ya mbak

Andiyani Achmad mengatakan...

tentang kerusakan bumi ini sebenarnya sudah di sounding sejak lama ya mak, masih inget saat aku kerja jadi sekretaris di salah satu firma hukum yang bahas tentang kerusakan alam,nyatanya sekarang bisa ngerasain lho

Eni Rahayu mengatakan...

ya allah, serem ya kak kebakaran hutan ini. Aku yang lihat dari jauh aja kadang ikut sesak apalagi yang dekat. Pernah tuh hutan di gunung (di malang) terbakar karena kemarau atau entah apa itu dah takut banget. Gimana kalau yang benar-benar rumahnya di hutan
Sayangnya masih banyak orang yang kurang peduli meskipun sudah ada wabah juga, miris banget

Nanik nara mengatakan...

Ternyata ada kaitannya ya antara berkurangnya jumlah lahan hutan dengan pandemi.
Walau tinggal di Jawa, kebakaran hutan 2019 membawa dampak besar juga buat saya lho. Karena ada agenda pekerjaan di beberapa kabupaten di Riau, namun harus batal gara-gara asap kebakaran hutan jadi nggak bisa ke sana

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Menarik nih pembahasan tentang Karhutla. Aku setuju dengan tidak membeli hewan liar untuk dijadikan peliharaan. Karena kita nggak pernah tahu gimana riwayat kesehatan hewan tersebut. Dan ini salah satu cara mencegah pandemi lainnya ya Ji

ungayossydotcom mengatakan...

Terkenalnya gk kece banget ya kak. Kuy kita bisa saling jaga. Ya kak. Buar hutan pun jaga kita. Btw Love banget ya kak sama eco blogger squad. Bahasannya selalu yg berbobot.

Dewi Rieka mengatakan...

Waktu tinggal di Palembang, sering banget pakai masker karena kabut asap kebakaran hutan, bapakku juga lembur melulu karena urusan kebakaran hutan tuh tanggungjawab kantornya...

Katerina mengatakan...

Manusia jadi faktor utama penyebab karhutla, maka paling pertama manusianya yang harus berubah. Kerja sama dari banyak pihak sangat dibutuhkan, dan terus menerus. Paling penting jangan terlalu banyak pertimbangan dengan alasan ini itu yang seolah demi perut padahal menimbun keuntungan tapi mengorbankan orang lain, bahkan negeri sendiri. Lama-lama hutan hanya akan tinggal nama, yang bertahta adalah penyakit, pandemi virus corona contohnya.

Dian Restu Agustina mengatakan...

Sepakat, meski tidak terdampak langsung karhutla, tapi keikutsertaan kita jaga hutan, jaga lingkungan agar kehidupan lebih seimbang diperlukan sehingga tidak ada lagi hal-hal buruk yang menimpa kehidupan kita kini dan nanti

bundayati.com mengatakan...

Betul sekali manusia2 serakah tanpa hati nurani faktor yg menyebabkan Karhutla dan bahkan dengan unsur kesengajaan sehingga terjadilah Karhutla yang berdampak pada hilangnya habitat binatang2 liar yg butuh makan sehingga akhirnya binatang2 itu memasuki area pemukiman utk mencari makan. Btw Eco Blogger Squad sangat berbobot penuh ilmu. Bunda baca postingan sampe 3x (#bukan lebai) beneran sukak karena konten tulisan yg oke punya. Bunda jd tahu ada beberapa varian Zoonosis, penyakit yg disebabkan oleh hewan. Juga dr postingan ini bunda baru tahu kl tiap tg 5 (?) Juni diperingati World Environment Day. Dan saluut beberapa pihak berkolaborasi di ECO BLOGGER SQUAD online gathering yg sukses ini, including BPN. Bravo Blogger Perempuan Network.

Dee_Arif mengatakan...

selalu sedih saat mendengar berita tentang kebakaran hutan ini
betapa kebakaran hutan ini sudah selayaknya dihentikan, butuh kolaborasi bersama untuk mengatasinya ya mbak
sebab dampaknya juga dirasakan oleh banyak orang

April Hamsa | Parenting Blogger keluargahamsa.com mengatakan...

Iyes mbak krn banyak penebangan makanya virus2 banyak yang cari inang baru, iyeeess kyknya copid jg salah satunya.
Makanya itu seluruh dunia kudu stop utk nebang2 hutan. Khususnya Indonesia nih sebaiknya pemangku kebijakannya lebih tegas lagi dgn vonuis berat dan gak hanya berlaku buat kroco2 masyarakat sekitar yg nebang kayu utk kebutuhan sehari2 tapi utk perusahaan2 besar yang nakal.

Ira duniabiza mengatakan...

Iyaa.. Karhutla ini sudah sperti jadi makanan rutin buat masyarakat di luar Jawa.. Kakak saya di riau sarangnya karhutla. Suka sedih dengar cerita dia stiap kali ada karhutla.. Dan benar ya bukan tidak mungkin kalau karhutla ini erat kaitannya dengan pandemi ya karena memang merusak siklus hewan dan tanaman..

Semoga dengan meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum yang ketat harhutla bisa dicegah..

Aswinda Utari mengatakan...

Bener banget mba analisisnya. Penyakit itu sebagian besar disebabkan oleh zoonosis. Dan kalo habitat mrk terancam maka mrk lari kmn lagi. Sdh saatnya keseimbangan alam dikembalikan lg

Herva Yulyanti mengatakan...

Iya juga ya mba penyakit-penyakit zoogenesis ya terjadi salah satunya lahan tempat tinggal binatang terganggu padahal habitat mereka harusnya dijaga sedih sih sampe terjadi dapur asap mulu :( semoga semuanya makin sadar ya buat jaga hutan *gemesh sih kalau udah ngomongin kesadaran hehehe

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Kadang manusia terlalu berambisi untuk membuka lahan dengan alasan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Padahal deforestasi itu dampaknya bakalan panjang banget ya. Binatang-binatang yang tinggal di hutan kan jadi kehilangan 'rumah'nya. Emangnya kita mau ngontrakin lahan kita ke mereka?

lendyagasshi mengatakan...

Sebenarnya bener gak sih...masalah karhutla ini adalah masalah klasik yang tipa tahun bakalan terulang kembali karena oknum, bukan karena kita yang kurang aware dengan alam.
Isu-isu begini dihembuskan bikin anak-anak menjadi kurang percaya dengan yang namanya lembaga hukum yaa..

semoga edukasi mengenai karhutla dan pencegahannya juga diaplikasikan ke seluruh lapisan masyarakat.

Nyi Penengah mengatakan...

Tiap kali ada kahurtla di berita, sedih rasanya.
Gimana ya kadang manusia terlalu egois dan berambisi dan lupa ada makhluk hidup yang tinggal di dalam hutan. Barokallah mbak bisa ikutan acaranya langsung, makasih sharingnya mbak

tari mengatakan...

dalam setahun ada kali ratusan lembaga membahas ini. aku sbg org sumatra yg nyaris tiap tahun menghirup asap karhutla sampe gak yakin apakah yg kyk gini ngefek. masalah terbesar kita itu mental. kalo dr kelas rt sampe presiden masih maruk duit, buang sampah aja gak biasa di tempatnya, dahlah, kek gini terus sampe seabad lagi!

Fionaz mengatakan...

Bener banget kak, kita yang ada di Jawa hampir nggak merasakan dampak Karhutla tapi sodara kita yang di Sumatera dan sekitarnya hampir tiap hari harus merasakan dampaknya

Anotherorion mengatakan...

Dari pemaparan di atas, ada kemungkinan y mbak klo pandemi corona juga terjadi akibat ulah manusia merusak alam?

Faridilla Ainun mengatakan...

Ada banyak efek dari karhutla itu...Termasuk ke rusaknya keseimbangan alam, lalu sumber pangan pun bisa menjadi terganggu ya...Kalau sumber pangan terganggu, gimana kita bisa menjaga kondisi tubuh?

Benar-benar menjaga alam sangat penting, termasuk menjaga hutan dari kebakaran dan kerusakan

Maria G Soemitro mengatakan...

di SD kita belajar ekosistem alam , tapi melupaakannya sesudah dewasa

setiap ada yang dimusnahkan (salah satunya karhutla), pasti ada yang dikorbankan ya?

Zee Vorte mengatakan...

Hal yang sangat saya dukung yaitu Memperluas moratorium hutan dan gambut
Meningkatkan penegakan hukum
Restorasi hutan dan gambut terdegradasi
Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan

Yuni Bint Saniro mengatakan...

Kebakaran hutan apalagi di lahan gambut juga seringnya sulit dipadamkan. Meskipun bagian atas tanahnya padam, bisa jadi api di dalam tanahnya masih menyala. Jadi, akan lebih baik menjaga Karhutla ketimbang berusaha memadamkannya. Selain untuk mencegah pandemi juga.

lendyagasshi mengatakan...

Serem kalau mendengar zoonosis.
Ternyata penyakit ini akibat dari kelalaian manusia juga yaa.. Subhanallahu.
Berarti benar kalau semua yang ada di bumi terjadi karena ulah kita sendiri.

Dee_Arif mengatakan...

Mencegah karhutlah menjadi tanggung jawab kita bersama ya mbak
karena karhutlah nggak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan saja, tapi juga mengancam kesehatan manusia itu sendiri

Wahyu Eko C mengatakan...

Mindset orang ketika membuka lahan pasti lebih mudah dengan cara membakar hutan. Mereka hanya memikirkan cara mudah untuk keuntungan yang sesaat namun tidak memikirkan akibat yang ditimbulkannya. Regulasi untuk pembukaan lahan baru harus lebih ketat dan di awasi di lapangan sehingga karhutla bisa dicegah sejak dini

Nyi Penengah mengatakan...

Setuju untuk diaplikasikan ke lapisan masyarakat edukasinya harus menyeluruh
aku mendukung, aku sendiri belum pernah ikutan acara edukasi macam begini. Semangat mencintai lingkungan kita

Euisry Noor mengatakan...

Iya karhutla tuh banyak dampak negatifnya. Sayangnya penyebab yg disengaja oleh oknum manusia juga masih marak terjadi. Bener banget kudu dikuatin jg penegakan hukumnya. Kadang kalo pelakunya perusahaan gede tuh suka greget Krn byk kasus yg lolos dari hukum, jadi gak ada efek jera

Triani Retno A mengatakan...

Wuiiiih...panjangnya dampaknya. Nggak kepikiran olehku kalau kebakaran hutan bisa memicu terjadinya pandemi. Bener2 mesti lebih peduli pada kelestarian dan keselamatan lingkungan hidup nih.

Nurhilmiyah mengatakan...

Kebakaran hutan dan lahan ini semoga gak terjadi lagi di masa yang akan datang ya Mbak, efek asapnya sampai ke negara tetangga dan banyak menimbulkan penyakit ISPA untuk masyarakat yang menghirup asapnya

Tukang Jalan Jajan mengatakan...

sebagai orang Pontianak yang setiap tahun pasti dua kali mengalami sesak nafas akibat kebakaran hutan. Merasa kesal dengan keadaan yang tak berubah, semoga dengan makin banyak yang berkontribusi melakukan pencegahan, semua masalah dapat terkendali

Han mengatakan...

Yang jauh aja ngerasa sesek bangett padahal cuma lihat. Efeknya mungkin ngfa kerasa saat ini di jawa. Cuman kalau dibiarin terus, bukan ngga mungkin kita seindonesia juga kena dampaknya ya mba

Fenni Bungsu mengatakan...

Yuk bisa..bisa..
Harus yakin bahwa karhutla dapat dicegah. Bebaskan dari penyakit zoonosis, dan deforestasi, agar hutan kita tetap terjaga dan bumi ini makin sehat

Kiky | riskysupriati.com mengatakan...

Parah banget 72 triliun. Memang sudah saatnya kita kompak jaga hutan. Sebenarnya ada lebih banyak keuntungan menjaga daripada mengeksploitasi. Thx 4 sharing mba <3

Damar Aisyah mengatakan...

Masuk akal sih, karena kalau habitat aslinya hilang pastinya binatang2 itu lari ke area pemukiman penduduk. Ya pastinya penyakit yang ada dalam tubuh binatang makin nyebar ke area pemukiman juga. Emang kalau di jawa nggak terasa, tetapi akrena keluargaku ada yg di Lampung dan Kalimantan, jadi ngerti banget susahnya. Mulai kebakaran hutan sampai lahan pertanian diserang binatang hutan yg lari dari habitat aslinya.

Rahmah 'Suka Nulis' Chemist mengatakan...

Sepakat Mak
Hanya saja sebagai ibu dua anak, langkah konkret apa ya yang bisa saya lakukan? Dan semua dari rumah saja...

Marfa Umi mengatakan...

Sedih kalau denger perburukan dari karhutla ini, memang sih untuk skala besar kita butuh kebijakannya yang tegas dan sanksi yang jelas juga. Namun untuk dukungan dari hilir kita juga kudu aware nih masalah ke karhutla dan mendukung komunitas pemantauan dan pemadan kebakaran

Marfa Umi mengatakan...

Sedih kalau denger perburukan dari karhutla ini, memang sih untuk
skala besar kita butuh kebijakannya yang tegas dan sanksi yang jelas
juga. Namun untuk dukungan dari hilir kita juga kudu aware nih masalah
ke karhutla dan mendukung komunitas pemantauan dan pemadan kebakaran

Narasi Nia mengatakan...

Setelah baca artikel ini. Aku jadi tahu kalau kathula itu, singkatan dari kebakaran hutan dan lahan.

Eh, bener gaksi?
Btw, thanks kakak. Artikel nya informatif banget

Ang Tek Khun mengatakan...

Turut prihatin untuk kondisi yang terjadi seperti ini. Kiranya bisa ditangani dengan baik sehingga ke depannya akan lebih baik dan bisa mengharumkan nama Indonesia.

Eri Udiyawati mengatakan...

Bener banget sih karhutla itu membuat satwa liar kalang kabut mencari tempat untuk berlindung. Yang selama otomatis menuju ke pemukiman, bisa jadi membawa virus dan lainnya.

Semoga karhutla di dunia tidak ada lagi, khususnya di negara tercinta kita yang jadi paru-paru dunia. Jangan sampai ya, rusak, maka rusak juga iklim dan lainnya. 😢

Siska Dwyta mengatakan...

Setuju banget dengan kalimat pembukanya. Apa enaknya jadi terkenal gitu kalau gak bisa membawa perubahan yang baik. Ini juga jadu noted buat saya yang semoga ke depannya lebih peduli lagi sama lingkungan dan berharap semoga semakin banyak yang sadar juga akan pentingnya menjaga lingkungan sehingga peristiwa karhutla ini dapat dihindarka

Arif Abdurahman mengatakan...

Suka sedih karena hampir tiap tahun pasti ada berita kebakaran hutan, dan pastinya deforestasi yg ga diberitakan lebih banyak lagi. Baru tercerahkan juga lewat tulisan ini kalau isu lingkungan ini punya efek ke pandemi penyakit.

Marita Ningtyas mengatakan...

Kece banget sih ada Eco Blogger Squad, tapi memang butuh nih blogger2 yang khusus bersuara tentang karhutla dan hal-hal terkait dengannya. Agar orang awam sepertiku bisa lebih melek tentang cara menjaga hutan dan lingkungan sekitar. Kalau kita egois dalam memanfaatkan hutan, apa jadinya anak cucu ponakan kita kelak ya...

Komentar saya moderasi. Tinggalkan jejakmu di sini, Teman!