6c2y5xLulMkOYYgEXrgPjC5Lx3Je6RzEo1m3mFkw

Review One Child Nation

Kamu ingin punya berapa anak? Satu? Dua? Atau banyak? Bagaimana dengan kebijakan keluarga berencana? Apakah kamu akan mengikutinya?

    Nǐ hǎo! Dulu sekali, saat masih awal 20-an, saya berniat punya anak banyak. Dengan percaya diri, saya bilang bahwa nanti bisa mengurus mereka karena memang dari dulu suka anak kecil. Namun seiring bertambahnya usia, ternyata pemikiran tersebut banyak berubah. Saya tidak ingin lagi seperti itu dan jika memungkinkan, tak apa kalau tak ada anak dalam pernikahan. Saya sampai terpikir bahwa kebijakan Satu Anak di China itu baik sampai akhirnya nonton One Child Nation. Wah, ternyata tidak sebagus kelihatannya!

Review One Child Nation

    Sebenarnya, apa sih The one-child policy ini? Kapan dan kenapa dimulai? Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan kebijakan tersebut?

Directed by Nanfu Wang, Jialing Zhang
Production companies: Next Generation, ITVS, WDR/Arte, Motto Pictures, Pumpernickel Films
Distributed by Amazon Studios
Release dates: January 26, 2019 (Sundance), August 9, 2019 (United States)
Running time: 89 minutes
Country: United States
Languages: English, Gan Chinese, Mandarin Chinese

One Child Nation Review


    Dulu di sekolah saat membahas populasi terbesar, saya tahu Tiongkok ada di daftarnya, Indonesia juga dan yang pertama adalah India. Ketika mulai nonton drama Cina beberapa tahun lalu, saya menyadari bahwa sebagian besar tokohnya adalah anak tunggal. Lalu kemudian saya baru mengerti bahwa ada yang namanya Kebijakan Satu Anak di China.

    Sebagai orang luar yang belum pernah tinggal di Tiongkok, mengingat populasi manusia yang besar, saya tentu setuju dengan kebijakan tersebut. Saya pikir, kebijakan itu akan menyejahterakan rakyat juga. Namun ketika mulai nonton One Child Nation, ternyata banyak sekali sisi gelapnya.

Film Dokumenter One Child Nation

    Saya tahu One Child Nation 2019 ketika mulai nonton Love's Ambition. Seperti biasa, saya mencari informasi pendukung ketika berniat membuat ulasan. Ternyata, drama tersebut diadaptasi dari web novel "Da Qiao Xiao Qiao" (大乔小乔) oleh Zhang Yue Ran (张悦然). Lalu dari sana, ada juga film The Unseen Sister. Saya jadi penasaran kenapa disebut anak tidak sah ketika tokoh utamanya lahir dari pernikahan yang terdaftar?

    Jadi di sana ada, Hukou, sebuah dokumen registrasi rumah tangga yang memungkinkan warga mendapat pelayanan publik seperti jaminan sosial, pendidikan, kesehatan, bahkan lindungan hukum. Kalau di Indonesia, mungkin semacam Kartu Keluarga. Yang mendapat ini, adalah anak-anak yang terdaftar mengikuti Kebijakan Pemerintah yaitu satu keluarga, satu anak.

    Xu Yan itu anak kedua dan dia jadi Heihaizi (anak-anak kulit hitam), sebuah istilah di China yang digunakan untuk anak-anak ilegal, atau tak terlihat karena Kebijakan Satu Anak. Bisa dibilang Xu Yan masih cukup beruntung karena dirawat Neneknya. Beda sekali dengan anak-anak dalam cerita One Child Nation.

    Sinopsis One Child Nation merupakan film dokumenter berdurasi 1 j 25 m pemenang Grand Jury Prize Sundance AS 2019 yang disutradarai oleh Nanfu Wang dan Jialing Zhang yang lahir di Cina di mana mereka mengungkapkan konsekuensi mengerikan dari Kebijakan Satu Anak di China melalui kisah orang-orang yang menjalaninya. Kebijakan ini bukan hanya menyakiti anak-anak, tapi juga orangtua, orang yang terlibat, bahkan orangtua angkat yang mengadopsi. Lho, kenapa sampai sejauh itu?

Dulu saya pikir saya tahu semua hal tentang Kebijakan Satu Anak. Betapa indahnya kehidupan kita. Namun kini, saya bertanya-tanya apa itu pikiran saya sendiri atau karena saya pelajari - Nanfu

    The one-child policy (Chinese: 一孩政策; pinyin: yī hái zhèngcè) atau Kebijakan Satu Anak dikeluarkan tahun 1979. Saat itu terjadi krisis bahkan di dunia juga. Makanya butuh pembatasan kelahiran agar tidak terjadi kelaparan dan hal buruk lainnya. Tahun 1982, kebijakan tersebut ditulis dalam konstitusi. Tahun 2015, kebijakan berakhir. Pemerintah menyebut, China jadi lebih kuat, sejahtera dan damai. Apakah begitu benar adanya? Nanfu, sang sutradara awalnya tidak menyadari sampai kemudian ketika dia menjadi Ibu dan harus berpisah dengan bayinya yang prematur, kenangan masa kecilnya mulai muncul perlahan-lahan.

    Nanfu berarti Pilar Manusia. Orangtuanya memilih nama itu bahkan sebelum dia lahir karena ingin memiliki anak laki-laki. Namun ternyata anak perempuan yang keluar dan mereka tetap menamainya itu dengan harapan dia bisa tumbuh kuat seperti pria.

    Di semua pintu di desanya, plakat merah dipasang sebagai tanda komitmen pada Partai Komunis. Di sana banyak bintang untuk keluarga baik, keluarga yang mengikuti Kebijakan Satu Anak, dan lainnya. Nah, rumah Nanfu ini tidak memiliki itu karena dia punya saudara laki-laki. Semua orang tahu hal tersebut dan membuatnya malu seolah pilihan keluarganya merupakan dosa besar.

一孩政策

    Jadi Kebijakan Satu Anak ini digaungkan secara masif sampai ke akar. The National Health and Family Planning Commission of the People's Republic of China (NHFPC) atau Komisi Kesehatan dan Keluarga Berencana Nasional menugaskan orang-orang untuk menyukseskan kebijakan tersebut. Dengan cara apa? Propaganda di semua hal. Seperti tayangan TV, Poster, Kalender, Bungkus makanan, Bungkus mainan, Opera dan Pertunjukan Musik, serta banyak lainnya. Selain itu, ada intensif jika mengikuti kebijakan. Dapat hadiah jika melapor apabila ada keluarga yang punya anak lain, dan denda untuk yang tidak mematuhi bahkan perampasan harta juga.

"Kita Memerangi Populasi" adalah slogan umum yang dipakai Pemerintah selama Kebijakan Satu Anak. Cina mulai perang melawan pertumbuhan populasi, tapi itu menjadi perang nyata melawan rakyatnya sendiri - Nanfu

    Nanfu lahir di desa. Di sana ada sedikit kelonggaran di mana boleh punya anak lagi jika anak pertama adalah perempuan. Syaratnya harus berjarak 5 tahun. Keluarganya sendiri bilang bahwa jika adiknya lahir perempuan, mereka sudah menyiapkan keranjang untuk nantinya dibuang. Beruntung yang lahir laki-laki. Aduh, teringat sedihnya jadi Xu Yan karena penolakan Ibu Ayahnya.

    Demi terwujudnya kebijakan ini, banyak orang yang terlibat. Kepala Desa yang menjabat terus melakukan propaganda karena itu sangat ketat, tak punya pilihan lain. Tidak ada toleransi. Bahkan jika ada yang tidak mengikuti, bisa-bisa semua pejabat di desa tersebut harus pergi. Masalahnya, demi kebijakan tersebut, para wanita dipaksa untuk aborsi juga sterilisasi.

Nanfu Wang One Child Nation

    Seorang bidan yang pernah bertugas mengatakan bahwa dia berkeliling untuk membantu melahirkan, melakukan induksi. Dan karena kebijakan, larangan punya anak lebih dari satu, wanita dipaksa melakukan sterilisasi dan aborsi dengan cara diculik. Jika mereka kabur, maka akan dikejar, tak peduli kondisinya. Saat itu, USG tidak diizinkan. Dan ketika aborsi, banyak mereka yang sudah hamil di usia 8 atau 9 bulan. Kebayang ngerinya kan?

Butuh keberanian besar untuk membunuh (janin) karena petugas memang sudah mendapatkan indoktrinasi di mana kebutuhan kolektif (negara) lebih penting daripada perasaan pribadi. Indoktrinasi menghancurkan kemanusiaan, individualitas, dan hati nurani seseorang - Peng Wang

    Peng Wang, seorang seniman mengerjakan Proyek Motive dengan gambar janin di tiap halaman yang berjumlah 366. Semua itu bermula dari sampah di bawah jembatan yang dia potret sebagai tema lukisan. Saat memantau, dia melihat janin yang terbungkus plastik hitam dalam plastik kuning dengan tulisan limbah medis. Dia pun mulai mengumpulkan dan mengawetkan sambil bertanya-tanya. Bagaimana janin itu tetap tersenyum setelah digugurkan dan dibunuh?

    Nanfu juga bertanya-tanya, apakah semua yang terjadi, kebijakan satu anak ini sepadan dengan pengorbanannya?

One Child Nation Born in China


Saya ingin mengumpulkan janin-janin ini dan mengawetkannya agar orang bisa melihat skala fenomena ini, kerapuhan hidup, dan rasa hormat yang layak untuk setiap kehidupan. Saya ingin orang berpikir, bagaimana kita bisa dan mengapa melakukannya? Yang tragis bagi suatu bangsa adalah tidak punya ingatan. Ketika Kebijakan Satu Anak berakhir, orang bisa punya semua anak yang mereka mau. Ingatan atas kebijakan tersebut akan hilang - Peng Wang

One Child Nation Born in China

    China dan banyak negara lainnya masih menganut sistem Patriarki. Semua ingin anak laki-laki untuk melanjutkan garis keturunan. Perempuan, Ibu pun demikian. Dia memilih anak laki-laki meski dia perempuan. Ibu Nanfu menyadari bahwa hidup memang keras. Bahkan dia pernah juga membuang anak perempuan adik laki-lakinya di pasar dan berakhir meninggal karena tidak ada yang mengambilnya. Pamannya jadi trauma karena kejadian tersebut.

    Di sisi lain, Bibi dari pihak Ayah juga pernah melakukan hal yang sama, tapi sedikit berbeda karena menyerahkan anaknya ke orang lain. Pedagang Manusia (Mak Comblang), yang dianggap bisa membantu mencarikan mereka tempat tinggal, hidup yang layak meski terlahir sebagai perempuan.

    Tahun 1992, Program Adopsi Internasional dibuka yang memungkinkan orang asing untuk mengadopsi anak yatim piatu di China. Dan ternyata, peminatnya banyak sekali. Lalu bagaimana panti asuhan mampu memenuhi permintaan tersebut?

Research-China.Org

    Mak Comblanglah jawabannya. Tidak ada yang mau anak perempuan sehingga mereka dibuang, ditelantarkan. Jadi itu menciptakan peluang bagi Pedagang Manusia di seluruh Cina salah satunya Keluarga Duan. Pada tahun 2005, mereka ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara.

    Awalnya, Duan dan orang-orang lainnya melakukan itu karena belas kasih. Mereka ini dari kalangan bawah. Niatnya membantu agar bayi, anak-anak tersebut bisa terawat dengan menyerahkannya ke Panti Asuhan. Tempat yang mereka pikir badan amal, ternyata memberikannya uang. Dan kemudian siklus transaksi itu terjadi terus menerus. Pertanyaan jelas muncul. Ke mana anak-anak itu?

Jika kebijakan Satu Anak tak diterapkan, semua ini tidak akan terjadi pada kami. Kebijakan ini tak hanya merenggut nyawa bayi yang baru lahir, itu juga menghancurkan kehidupan banyak orang dewasa

Brian Stuy dan Longlan Stuy Family

    Nanfu pun bertemu dengan Brian Stuy dan Longlan Stuy, pasangan suami istri yang mengadopsi beberapa anak dari China. Putri tertuanya Meikina, bertanya pada ibunya tentang keluarga kandungnya. Tak mampu menjawab, mereka akhirnya mencari informasi dan penelitian dimulai di tahun 2000. Dan sampai sekarang, Research-China.Org masih berdiri yang merupakan layanan berbayar penghubung anak-anak adopsi dan keluarga kandung mereka di Cina.

    Ketika mulai penelitian, Brian dan Longlan Stuy tentu saja menanyakan banyak hal pada pihak panti asuhan misalnya pukul berapa anak ditemukan, bagaimana keadaannya, dan lain sebagainya. Brian pikir semua itu akurat. Namun setelah dia bertemu dengan seseorang yang namanya digunakan dalam dokumen adopsi, ia menyadari bahwa semua itu hanya karangan belaka. Cerita dibuat sebagus mungkin agar orangtua asuh tertarik untuk melakukan pengangkatan.

    Kenapa Adopsi Anak China Populer?

    Pemerintah butuh uang. Jadi mereka datang dengan alasan mengumpulkan biaya pemeliharaan sosial, Kantor Keluarga Berencana, Biro Urusan Sipil, Departemen Kepolisian, bahkan Pengadilan serta Lembaga Pemerintahan bekerja sama mengumpulkan biaya. Nah, saat adopsi internasional, calon orangtua ini mengeluarkan uang yang tidak sedikit antara 10.000 sampai 25.000 dolar.

    Panti Asuhan yang dikelola oleh Pemerintah ini melakukannya dengan terstruktur. Bisa dibilang, ini seperti penipuan, korupsi yang bersifat nasional di mana bayi dan anak-anak yang diperdagangkan. Itulah kenapa Duan, si Mak Comblang bisa mendapatkan uang. Apakah semua adalah bayi dan anak terlantar? Kenyataannya tidak.

Audrey Doering dan Gracie Rainsberry

    Di awal kebijakan The one-child policy, keluarga yang tidak mengikuti peraturan akan dihancurkan rumahnya, diambil harta benda, dipaksa aborsi dan sterilisasi. Namun berjalannya waktu setelah panti asuhan bergabung, ada adopsi internasional, terlihat keuntungan dari Kebijakan Satu Anak ini. Jadi Pejabat setempat mengambil anak yang tidak terdaftar untuk dibawa ke panti, termasuk yang kembar. Biasanya ditargetkan di daerah termiskin di China. Pantas saja ada kasus seperti Audrey Doering dan Gracie Rainsberry. Pasangan kembar yang akhirnya bertemu setelah keduanya diadopsi keluarga Amerika.

    Kasus Pejabat yang mengambil anak secara paksa akhirnya terungkap, tapi Pemerintah menutupinya. Sampai ada seorang jurnalis bernama Jiaoming Pang yang meliput dan punya banyak bukti diancam, dipecat dan diusir keluar dari negara China. Ketika One Child Nation Film dibuat, dia berada di Hongkong.

Kebijakan Satu Anak


The Orphans of Shao by Pang Jiaoming

Saya sangat marah, bahkan dengan keluarga saya sendiri. Bahwa tak ada yang bisa dikatakan atau dilakukan. Ada rasa ketidakberdayaan yang sama. Itu mengingatkan saya, ketika setiap keputusan besar dalam hidup dibuat untuk Anda, seumur hidup Anda, sulit untuk merasa bertanggung jawab atas konsekuensinya - Nanfu

    Jujur nonton One Child Nation 2019 ini membuat saya terkaget-kaget dengan fakta yang dikemukakan. Ternyata Kebijakan Satu Anak di China sangat gelap. Saya sebenarnya setuju dengan pembatasan jumlah anak, karena menurut saya lebih baik mengedepankan kualitas daripada kuantitas. Namun saya tidak menyangka, akan banyak sekali yang dikorbankan. Anak-anak, wanita, orangtua, dan orang yang tanpa sengaja terlibat jadi korban pemaksaan kebijakan ini. 

    Tahun 2015, kebijakan resmi berakhir. Tahun 2016, semua pasangan di Tiongkok diperbolehkan memiliki dua anak. Lalu menjadi tiga anak sejak tahun 2021. Menurut reporter Wall Street Journal, Mei Fong, alasan China melakukan ini karena sekarang mereka punya terlalu banyak pria, terlalu banyak lansia, dan terlalu sedikit kaum muda. Mereka mengalami krisis demografi yang sangat parah akibat kebijakan satu anak. Dan jika orang-orang tidak mulai memiliki lebih banyak anak, tenaga kerja akan sangat berkurang untuk mendukung populasi lansia yang sangat besar.

    Kebijakan Satu Anak ternyata segelap itu, jejaknya kini dihapus. Namun tentu saja ingatannya masih membekas terutama bagi orang-orang yang mengalaminya. Pantas saja Nanfu bilang kalau jadi orangtua di China sangat traumatis. Saat itu, mereka tidak bisa melawan, tidak punya pilihan.

Saya terkejut oleh ironi bahwa saya meninggalkan negara di mana Pemerintah memaksa wanita untuk menggugurkan, dan saya pindah ke negara lain di mana Pemerintah membatasi aborsi. Di permukaan mereka tampak berlawanan, tapi keduanya mengendalikan wanita atas tubuh mereka sendiri - Nanfu

    Rasanya jadi sedikit bersyukur lahir di Indonesia di mana meski ada Keluarga Berencana, tapi itu hanya imbauan, bukan paksaan. Tentu saja saat ini, saya masih menimbang berulang kali untuk memiliki anak. Saya pribadi berpikir bahwa ketika menikah, yang dicari itu teman hidup. Anak hanya bonus. Jika tidak ada, tak apa. Saya juga berharap sebagai perempuan bisa punya hak atas tubuh sendiri. Jadi entah itu hamil, melahirkan dan lainnya, yang utama harus sesuai pendapat saya, bukan tuntutan orang tua, atau lingkungan semata. Karena kelahiran yang direncanakan adalah tanggung jawab semua orang.

Kebijakan Satu Anak di China

    Dari yang niat nonton One Child Nation Born in China hanya karena ingin tahu latar belakang Xu Yan di Love's Ambition, eh malah ditampar fakta tentang Kebijakan Satu Anak di Cina. Beneran insightful dan bikin terbengong-bengong. Semua berakhir, ingatan mungkin memudar, dan yang tersisa hanya propaganda. Meski dunia ini begitu sesak, saya berharap di manapun, anak-anak, perempuan bisa terlindungi, mendapatkan hak mereka seadil-adilnya.

    Jika kalian penasaran dan ingin Nonton One Child Nation Sub Indo, legalnya ada di Prime Video ya. Sekian dulu ulasan saya. Ada yang sudah lihat film dokumenter ini? Atau tahu juga soal Kebijakan Satu Anak di China? Coba share pendapat dan pengalaman kalian di kolom komentar.

    Sampai jumpa. Happy blogging!

Sumber Informasi dan gambar:
https://en.wikipedia.org/wiki/One_Child_Nation
https://www.pbs.org/independentlens/documentaries/one-child-nation/
https://www.amazon.in/Orphans-Shao-Jiaoming-Pang-ebook/dp/B016P8VUBS
https://abcnews.go.com/GMA/Family/twins-reunited-gma-celebrate-graduation-valedictorians/story?id=110448295
Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar