Kamis, 08 Februari 2018

# Cerita Pedalaman # Drama

Sokola Rimba, Sedikit Cerita Kehidupan dari Orang Pedalaman

Bismillaahirrahmaanirrahiim....

Hidup dengan segala kemudahan itu memang enak. Tapi, pernah enggak sih kepikiran bagaimana rasanya tinggal di pedalaman? Apa jadinya jika kita terlahir di sebuah suku yang jauh dari hiruk pikuk kota?


Butet Manurung hampir 3 tahun kerja di Lembaga konservasi di daerah Jambi. Dia mengajar baca tulis berhitung anak suku dalam atau Orang Rimba yang tinggal di hulu sungai Makekal di hutan bukit Duabelas.


Untuk ke sana tidak mudah. Dari naik motor, Butet kemudian berjalan jauh. Di tengah jalan ini Butet pingsan. Dia diselametin sama Nyungsang Bungo anak dari Hilir sungai Makekal, yang jaraknya sekitar 7 jam perjalanan buat capai hulu sungai. Bungo ternyata diam-diam sangat tertarik dan ingin belajar bersama Butet. Alasannya dia ingin baca surat perjanjian dari orang-orang yang eksploitasi tanah mereka dan mengakibatkan mereka terusir.

Butet ingin banget bantu Bungo, tapi wilayah kerjanya tidak menjangkau. Udah gitu, atasannya nolak dengan alasan ini itu. Ditambah kelompok Bungo masih percaya jika baca tulis itu bawa petaka.

Meski ditolak, Butet cari cara agar bisa tetap ngajari Bungo dan anak-anak hilir. Bungo akhirnya bisa belajar. Sayangnya malapetaka itu terjadi ditambah atasan Butet minta wartawan datang. Bagaimana akhirnya?

Sokola Rimba tanpa sengaja saya temukan di HOOQ sebelum tahun baru 2018. Dan akhirnya kemarin saya nonton juga. Film yang disutradarai Riri Riza produksi tahun 2013 ini berasal dari pengalaman nyata Saur (Butet) Marlina Manurung. Setting yang diambil adalah awal 2000 an di masa pemerintahan Gusdur.

Butet yang akhirnya nemuin kenyamanan bersama Orang Rimba. Tapi usahanya terhalang aturan, restu dari atasan. Saya enggak tahu bagaimana kerja di konservasi. Tapi mungkin memang ada aturan atau pertimbangan tertentu melihat dari medan yang di tempuh memang tidak mudah.

Film yang hadirin Prisia Nasution dan Nyungsang Bungo sebagai pemeran utama ini buat saya jadi banyak bersyukur. Biar hidup di desa, akses ini itu cukup. Makan seadanya dan tak ada kata kekurangan. Dan yang penting pendidikan ada buat mereka yang mau. Karena ada juga orang-orang yang tak mau sekolah karena alasan tertentu.

Beberapa waktu lalu sempat heboh 'Kartu Kuning' Jikowi dari ketua BEM UI. Yang bersangkutan mengkritisi tentang gizi buruk di Asmat Papua. Memang tak ada hubungannya dengan Sokola Rimba. Tapi, saya yakin medan di sana enggak jauh dari penggambaran di film Sokola Rimba. Jalan ke daerah yang alamnya masih asli itu enggak mudah. Kalau mau lebih mungkin bisa nonton Denias.

Di Sokola Rimba juga ada dokter asing yang juga jatuh cinta pada Orang Rimba dan akhirnya juga bantu Butet padahal itu ditentang atasannya. Kalau bilang tinggal kirim orang ahli, dokter ahli, atau siapa pun yang ahli ke daerah pedalaman itu gampang. Tapi, apa mereka mau bekerja dengan hati bukan hanya karena tugas dari dinas?

Saya yakin orang-orang yang bekerja di pedalaman adalah orang-orang hebat dan kita layak ngasih apresiasi yang besar pada mereka. Buat pemerintah, upaya terbaik pasti sudah dijalankan walau memang belum tersentuh semua.

Kita jelas enggak bisa minta mereka Orang Rimba ninggalin kehidupan di pedalaman karena memang jalan dan kepercayaan mereka ada di sana. Setidaknya memperbaiki infrastruktur bisa membantu dan itu sedang diupayakan. Dan pendidikan, pengetahuan adalah senjata untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sutradara: Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Pemeran: Prisia Nasution
Rukman Rosadi
Nadhira Suryadi
Nyungsang Bungo
Distributor: Visi Lintas Films
Tanggal rilis: 21 November 2013
Durasi: 90 menit

Kalian sudah nonton Sokola Rimba? Atau pernah bertugas di daerah pedalaman? Share pendapat kalian yuk!

Sampai jumpa. Happy blogging!

20 komentar:

  1. realitanya,
    Jambi memang masih banyak daerah-daerah yang bernuansa hutan belantara gitu.
    enggak salah emang si riri riza mengambil set lokasi di sini.

    btw, jiah sekrang blognya jadi blog film ya?
    woah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena suka nonton aja Mbak makanya ada review filmnya, hahaha

      Jambi msh asri ya

      Hapus
  2. Good, mengangkat tema yang bagus, bukan cuma kota dan kota yang harus dimunculkan, namun daerah pedalaman juga butuh perhatian. Kita sering lupa dengan saudara-saudara kita di pedalaman sana, yang berobat dan sekolah harus menyeberang beberapa bukit dulu. Semoga insan pejuang pembangunan daerah pedalaman tetap istiqomah ya mbak.
    Kita juga jangan letih-letihnya mengingatkan ke khalayak ramai tentang eksistensi mereka. Indonesia Pasti Bisa!!

    BalasHapus
  3. Wah Butet dan Sokola Rimba nya skrg sudah jadi film ya. Memang kerja keras kayak gini harus diapresiasi agar khalayak tau lebih banyak.

    BalasHapus
  4. Aku termasuk yang gak tau banyak soal Indonesia bagian pedalaman.
    ((karena jarang nonton film Indonesia))

    Harusnya aku langganan HOOQ juga kali yaa..biar bisa akses film-film keren Indonesia.

    Oke,
    Aku download dan nonton.

    ((biar nambah pengetahuan dan rasa empatiku))

    BalasHapus
  5. Aku belum pernah nonton sih film ini, tapi dulu sudah pernah lihat trailernya mbak. kalau lihat dari sana sepertinya film ini bagus dna menginspirasi, jarang-jarang lho orang mau mengajar di pedalaman.

    BalasHapus
  6. Belum ada kesempatan nonton film ini.
    Iya enggak semua bisa dengan hati melayani org di daerah rimba. Salut buat mereka yang ada di daerah pedalaman, yg gak terekspose tapi bekerja keras melayani warga di sana.
    Jd pengen dunlud dan nonton film ini TFS

    BalasHapus
  7. saya belum nonton
    bukunya jg blm baca
    hanya sekilas tahu ttg buku ini waktu ada talkshow di kick andy
    penasaran memang

    BalasHapus
  8. Eh, ini film udah lama banget kan? Sayang nggak booming ya

    BalasHapus
  9. Belum pernah nonton..tapi nama Butet dulu pernah dengar ..karenaasuk iklan tv..tapi udah lupa..soalnya udh lama

    BalasHapus
  10. Baru aja lihat video viral di tv yang memperlihatkan ada salah satu suku anak dalam yang berhasil jadi tentara dan disambt dengna meriah oleh penduduk suku anak dalam. Pendidikan memang merata di nusantara perlu lebih banyak orang seperti Butet yang mau memberikan pendidikan hingga ke pedalaman

    BalasHapus
  11. Bagus ya filmnya jiah, tapi aku belum sempat nonton di hooq, asyik nonton drakor aja. Wkwkwk

    BalasHapus
  12. Film yang cukup bagus memperlihatkan suku pedalaman di indonesia yg banyak pohon pohon gitu kayanya bagus nih untukditonton.

    Tapi, semenjak drakor menjamur film seperti itu tidak ternotice ama kids jaman now

    BalasHapus
  13. aku blm nonton nih jiah film ini, da kayaknya pasti nangis liatnya. aku biasanya gak kuat lihat film perjuangan kehidupan gini, perjuangan untuk pendidikan dan hidup yg lebih layak. oke aku cari film sokola rimba nanti, fim yang mnginspirasi.

    BalasHapus
  14. kalo cerita tentang perdalaman emang seru banget yaaa, jadi penasaran sama filmnya, deh!

    BalasHapus
  15. Aku suka film dengan latar belakang alam Indonesia. Memanjakan mata....
    Sakola Rimba, aku belum nonton Ji, cari ah filmnya

    BalasHapus
  16. pernah nonton film dan baca bukunya juga. daerah seperti jambi dengan suku anak dalamnya juga banyak di Indonesia lain kak. Butuh pejuang yang benar benar nekat dan kuat. karena perjuangan bagi Indonesia maju masih panjang

    BalasHapus
  17. Aku belum nonton sih. Bukunya pun belum kubaca.

    Aku sebenarnya penasaran. Bagaimana hubungan Butet sama keluarganya ya? Kan dia tinggal di Rimba buat ngajarin anak anak rimba di sana.

    BalasHapus
  18. Belum pernah nonton film ini dan sepertinya bisa nyobain nonton film ini. Soalnya suka sama film yang didalamnya ngebahas tentang pedalaman. Jadi biar tau lebih banyak tentang gimana suasana di pedalaman :D

    BalasHapus
  19. Orang yang mendarmabaktikan hidupnya untuk sesama, apalagi meninggalkan rumah dan tinggal di pedalaman, sungguh orang yang luar biasa. Salut saya.

    BalasHapus